Tiga Wajah China di Tengah Perang Iran: Mediator, Oportunis, atau Pemain Cadangan Emas?

Geopolitik14 Views

BEIJING – Dunia sedang menyaksikan manuver akrobatik diplomatik dan ekonomi yang dilakukan oleh China di tengah kecamuk perang Iran. Beijing kini memainkan tiga peran sekaligus yang secara struktural saling bertentangan satu sama lain. Di satu sisi, China tampil sebagai juru damai, namun di sisi lain, mereka bertindak sebagai oportunis strategis dan penyedia infrastruktur finansial bagi pihak yang bertikai.

​Peran pertama yang dipamerkan Beijing adalah sebagai mediator. Utusan Khusus China untuk Timur Tengah, Zhai Jun, telah melakukan safari diplomatik ke Riyadh, Abu Dhabi, Doha, hingga Teheran sejak awal konflik. Menteri Luar Negeri Wang Yi pun sibuk melakukan panggilan telepon ke setiap kolega penting di kawasan tersebut, menyuarakan gencatan senjata segera dan mengutuk serangan udara yang dianggap melanggar hukum internasional.

​Posisi unik China terlihat saat mereka memberikan suara untuk Resolusi Dewan Keamanan PBB nomor 2817 yang mengutuk serangan Iran terhadap negara-negara Teluk. Namun, secara cerdik, Beijing abstain pada resolusi yang disponsori Amerika Serikat terkait penggunaan kekuatan militer. Langkah ini menjaga posisi China sebagai satu-satunya kekuatan besar yang memiliki saluran komunikasi terbuka dengan kedua belah pihak yang berkonflik.

Oportunisme Strategis: Menjaga Pabrik Tetap Mengepul

​Di balik jubah juru damai, peran kedua muncul: oportunis strategis. China saat ini menguasai cadangan minyak bumi strategis (SPR) sebesar 1,2 miliar barel, yang merupakan cadangan terbesar di Asia. Laporan menyebutkan bahwa Beijing mulai melepas hingga satu juta barel per hari untuk menjaga konsumsi domestik di tengah lonjakan harga global yang menggila akibat perang.

​Namun, pelepasan cadangan ini bukan dilakukan untuk menstabilkan pasar global atau membantu negara lain secara altruistik. China melepaskan cadangan tersebut semata-mata untuk memastikan mesin-mesin industri mereka tetap berputar tanpa tercekik harga energi yang tinggi. Ini adalah langkah proteksionisme energi yang sangat kalkulatif; mereka menghabiskan penyangga yang dibangun selama satu dekade hanya untuk kepentingan internal.

​Ketimpangan peran ini menciptakan kontradiksi struktural yang nyata dalam diplomasi mereka. Bagaimana mungkin seorang mediator bisa dipercaya untuk menegosiasikan gencatan senjata secara kredibel, sementara manajer cadangan strategisnya sendiri sedang berasumsi bahwa perang akan terus berlanjut? China seolah bersiap untuk skenario terburuk sambil tetap menjajakan narasi perdamaian yang menyejukkan di panggung dunia.

​Ketidakselarasan ini juga terlihat dari bagaimana Beijing bersikap terhadap sekutu-sekutu di Teluk. Seorang pembawa damai tidak mungkin bisa membangun kepercayaan penuh dengan negara-negara Teluk jika pembelinya terus menerima minyak mentah dari Iran. Padahal, di saat yang sama, kapal-kapal tanker milik negara Teluk sendiri tidak bisa bergerak bebas akibat blokade dan ancaman keamanan di perairan internasional.

Infrastruktur Finansial dan Pelarian Sanksi

​Peran ketiga yang tak kalah krusial adalah sebagai penyedia infrastruktur finansial yang bersifat bawah tanah. Meskipun bukan ciptaan langsung Beijing, penggunaan stablecoin A7A5 yang didukung Rubel telah memfasilitasi penghindaran sanksi antara Rusia dan Iran. Nilai transaksinya pun fantastis, menembus angka USD 100 miliar sejak diluncurkan secara resmi pada Januari 2025 lalu.

​Koridor finansial ini beroperasi melalui bursa dan dompet digital yang melayani para pembeli minyak mentah Iran asal Tiongkok secara masif. Di saat Selat Hormuz tertutup bagi hampir semua kapal tanker di dunia, minyak Iran tetap mengalir deras ke China melalui rute alternatif. Mereka memanfaatkan jalur Laut Kaspia dan jaringan pipa darat yang sama sekali tidak tersentuh oleh blokade laut di selat tersebut.

​Hal ini menciptakan ironi diplomatik yang sangat tajam bagi reputasi China sebagai pemangku kepentingan global. China tidak mungkin menjadi makelar kepercayaan yang jujur jika perusahaan-perusahaannya adalah penyambung nyawa finansial bagi salah satu pihak. Iran International bahkan melaporkan bahwa ekspor minyak mentah Iran ke China terus berlanjut sepanjang perang melalui saluran-saluran non-konvensional tersebut.

​Kontradiksi ini semakin memuncak jika kita membedah aktivitas Bank Sentral China (PBOC) dalam setahun terakhir. Hingga Februari 2026, PBOC tercatat telah menambah cadangan emas mereka selama 16 bulan berturut-turut. Penambahan ini mencapai 30.000 troy ounces dalam sebulan terakhir, sehingga total cadangan emas Tiongkok kini menyentuh angka 74,22 juta fine troy ounces.

Analisis Strategis: Target Pasca-Perang Beijing

​Penimbunan emas dalam skala besar di tengah krisis energi global bukanlah persiapan untuk menyambut perdamaian dunia. Bank sentral yang memborong emas saat perang berkecamuk biasanya sedang bersiap menghadapi kehancuran sistem moneter lama. Beijing tampak sedang mengantisipasi lingkungan moneter di mana perdagangan energi berbasis Dolar AS akan menghadapi gangguan struktural yang permanen.

​Ketiga peran yang dimainkan China—mediator, oportunis, dan pemburu emas—sebenarnya bermuara pada satu meja rapat di Politbiro. Mereka memiliki satu tujuan strategis yang seragam dan sangat dingin. Target utamanya adalah memastikan China keluar dari Perang Iran dengan pasokan energi yang utuh, basis industri yang tetap berjalan, dan reputasi diplomatik yang tetap terjaga.

rakyatmenilai.com memandang bahwa strategi “bermain di banyak kaki” ini adalah perjudian geopolitik tingkat tinggi bagi Beijing. China sedang mencoba menjadi pahlawan di atas mimbar PBB, sekaligus menjadi pemenang ekonomi tunggal di balik layar krisis ini. Namun, sejarah selalu mencatat bahwa tidak ada negara yang bisa selamanya berdiri di dua sisi jurang tanpa akhirnya terperosok oleh beban kontradiksinya sendiri.

​Rakyat menilai, langkah China memborong emas dan menguras cadangan minyak adalah sinyal kuat bahwa mereka tidak lagi percaya pada stabilitas tatanan global. Beijing sedang membangun bentengnya sendiri, sementara negara-negara lain masih terjebak dalam dilema antara kedaulatan dan ketergantungan energi. Kemenangan China dalam perang ini tampaknya tidak akan ditentukan oleh kekuatan militer, melainkan oleh ketangguhan cadangan fisik dan finansial mereka. (Sumber: Antaranews)