Dina Hidayana Bongkar Paradoks Pangan: Kaya Sumber Daya, Tapi Akses Belum Merata

Nasional10 Views

Pakar Ketahanan Pangan Universitas Pertahanan, Dina Hidayana, menegaskan bahwa persoalan pangan di Indonesia hingga kini belum terselesaikan dan justru masih menyisakan berbagai tantangan serius, mulai dari aspek produksi, distribusi hingga konsumsi yang dinilai belum berjalan optimal dan merata.

Pandangan tersebut disampaikan Dina dalam podcast Ngopini yang dipandu oleh Bang Annam, Ajo Gilang, dan Mas Rezha, di mana ia menekankan bahwa persoalan pangan tidak berhenti pada isu teknis, melainkan telah menjadi persoalan struktural yang terus berulang dari masa ke masa.

“Persoalan pangan bukan saja tidak terselesaikan, tetapi justru masih menimbulkan banyak tanda tanya. Dari produksi, konsumsi hingga distribusi, semuanya belum sepenuhnya membaik. Ini menjadi tanggung jawab negara untuk memastikan masyarakat bisa terpenuhi kebutuhan pangannya secara adil dan merata,” ujar Dina.

Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa tantangan pangan tidak hanya dihadapi Indonesia, tetapi juga menjadi persoalan global yang telah berlangsung lama. Dina merujuk pada teori klasik dari Thomas Robert Malthus, yang menggambarkan ketimpangan antara pertumbuhan penduduk dan ketersediaan pangan.

“Pertumbuhan penduduk berlangsung sangat cepat secara eksponensial, sementara produksi pangan memiliki keterbatasan. Ini yang menjadi tantangan besar bagi semua negara, termasuk Indonesia, meskipun kita dianugerahi sumber daya pangan yang melimpah,” jelas alumnus resolusi konflik UGM ini. .

Dalam konteks nasional, Dina menyoroti bahwa persoalan utama tidak hanya terletak pada ketersediaan pangan, tetapi juga pada akses masyarakat terhadap pangan yang layak, sehat, dan terjangkau. Ia mempertanyakan apakah hingga saat ini seluruh masyarakat Indonesia benar-benar telah menikmati kualitas pangan yang memadai secara merata.

“Pertanyaannya sederhana, apakah masyarakat kita sudah bisa makan cukup, sehat, berkualitas, dan dengan harga terjangkau? Karena persoalan ini terus berulang dari masa ke masa,” tegasnya.

Food Estate dan Tantangan Ketahanan Pangan di Tengah Tekanan Global

Menanggapi program food estate yang dijalankan pemerintah, Dina menilai pentingnya melihat isu pangan secara lebih luas, baik sebagai kebutuhan biologis maupun sebagai instrumen strategis dalam konteks geopolitik dan ekonomi global.

Menurutnya, Indonesia saat ini masih berada pada tahap pemenuhan kebutuhan dasar pangan, di tengah tekanan demografi yang besar serta keterbatasan teknologi pertanian yang belum sepenuhnya optimal.

“Kita dihadapkan pada pertumbuhan penduduk yang masif, sementara produksi pangan masih terkendala, termasuk dari sisi teknologi yang belum mampu mendorong produktivitas secara maksimal,” ujar Dina.

Di sisi lain, Dina juga menyoroti kerentanan Indonesia terhadap dinamika global, termasuk gangguan distribusi akibat konflik internasional, serta ketergantungan terhadap impor pangan dan bahan pendukung produksi seperti pupuk.

“Kita masih bergantung pada impor, bahkan untuk produksi dalam negeri pun kita membutuhkan komponen yang berasal dari luar. Ketika terjadi gangguan global, distribusi ikut terdampak dan ini menjadi risiko besar bagi ketahanan pangan kita,” jelasnya.

Dalam konteks tersebut, Dina melihat program food estate sebagai bagian dari upaya pemerintah untuk menjawab kebutuhan pangan dalam skala besar, khususnya bagi populasi Indonesia yang terus bertambah.

“Food estate bisa dilihat sebagai bentuk industrialisasi pertanian. Ini penting karena dengan jumlah penduduk yang besar, kebutuhan pangan juga besar. Kalau dikelola secara tradisional, produktivitasnya mungkin tidak akan cukup,” ungkap Ketua Umum Ikatan Alumni Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret (IKATANI UNS) ini.

Ia menegaskan bahwa intervensi pemerintah melalui program seperti food estate menjadi langkah strategis untuk menjaga ketersediaan pangan dalam jangka waktu tertentu, meskipun tetap membutuhkan penguatan dari sisi teknologi, distribusi, dan tata kelola secara menyeluruh.

“Food estate adalah upaya untuk memastikan suplai pangan kita tetap tersedia. Tapi tentu saja, keberhasilannya bergantung pada bagaimana kita mengelola seluruh ekosistem pangan secara komprehensif,” pungkas Dina yang juga putri Alm CPM Mardani, AKABRI 1974. {radaraktual}