Alfons Manibui: Perkuat Diplomasi Energi RI-Korea untuk Kedaulatan Nasional

Energi, Parlemen55 Views

JAKARTA – Dinamika geopolitik global yang kian tidak menentu menuntut Indonesia untuk semakin lincah dalam mengamankan rantai pasok energi nasional. Menanggapi hal tersebut, Anggota Komisi XII DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Alfons Manibui, secara tegas menyatakan dukungannya terhadap langkah taktis pemerintah dalam memperkuat kerja sama strategis dengan Korea Selatan.

​Langkah ini diwujudkan melalui penandatanganan tiga nota kesepahaman (MoU) oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Kerja sama ini dipandang sebagai pilar penting dalam memperkokoh posisi Indonesia di tengah transisi energi global yang sedang berlangsung secara masif namun tetap penuh tantangan supply chain.

​Alfons menilai bahwa kolaborasi ini merupakan manifestasi dari diplomasi energi yang aktif. Indonesia tidak lagi sekadar menjadi penonton, melainkan pemain strategis yang menentukan arah kebijakan energi bersih dunia. Sektor-sektor yang dicakup dalam MoU tersebut, mulai dari hidrogen hingga nuklir, merupakan fondasi masa depan industri global.

Hilirisasi Mineral Kritis dan Penguatan Rantai Nilai

​Salah satu poin krusial dalam kerja sama ini adalah pengembangan mineral kritis, khususnya nikel. Sebagaimana diketahui, Indonesia menguasai sekitar 40 persen cadangan nikel dunia. Alfons menekankan bahwa momentum kerja sama dengan Korea Selatan harus menjadi pintu masuk Indonesia ke dalam rantai nilai industri baterai kendaraan listrik (EV) dunia secara lebih dalam.

​“Langkah ini menunjukkan bahwa Indonesia semakin aktif memainkan peran strategis dalam diplomasi energi global, sekaligus memperkuat arah kebijakan menuju transisi energi yang terukur dan berkelanjutan,” ujar Alfons, dikutip dari FraksiGolkar, Jumat (3/4/2026). Ia berharap Indonesia tidak lagi hanya menjadi eksportir bahan mentah bagi negara lain.

​Legislator asal daerah pemilihan Papua Barat ini menegaskan bahwa setiap investasi yang masuk wajib menyertakan transfer teknologi yang konkret. Hal ini krusial agar kapasitas industri nasional terus meningkat, yang pada akhirnya akan bermuara pada penciptaan lapangan kerja berkualitas dan peningkatan daya saing ekonomi Indonesia di kancah internasional.

Ketahanan Energi di Tengah Gejolak Geopolitik

​Di sisi lain, Alfons menyoroti kerentanan rantai pasok energi akibat konflik di berbagai kawasan, terutama Timur Tengah. Diversifikasi teknologi dan sumber energi melalui kemitraan internasional seperti dengan Korea Selatan dianggap sebagai langkah preventif yang cerdas untuk menjaga kedaulatan energi agar tidak mudah terdikte oleh gejolak global.

​“Kerja sama ini harus mampu memperkuat kedaulatan energi Indonesia, baik dari sisi pasokan, teknologi, maupun nilai tambah ekonomi, sehingga Indonesia tidak rentan terhadap gejolak energi global,” tambahnya. Fokus pada teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) juga menjadi bukti komitmen Indonesia terhadap isu iklim dunia tanpa mengorbankan pertumbuhan domestik.

​Alfons berharap implementasi dari tiga MoU ini dapat berjalan optimal tanpa hambatan birokrasi. Kepentingan nasional harus tetap menjadi kompas utama dalam menjalankan agenda transisi energi, sehingga keseimbangan antara kebutuhan pasokan energi saat ini dan target emisi di masa depan dapat terjaga dengan harmonis.

rakyatmenilai.com

Referensi Utama Kebijakan Dan Geopolitik