rakyatmenilai.com – Setelah sukses dengan wacana tebu Merauke, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, kini membuka babak baru dalam upaya pemerataan ekonomi dan energi. Fokusnya beralih pada peluang strategis bagi Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih untuk terjun langsung dalam penyaluran Liquefied Petroleum Gas (LPG) 3 kg bersubsidi.
“Bisa saja nanti akan ada koperasi atau apa, yang penting itu basisnya merah putih, berbasis kerakyatan,” kata Bahlil, seperti dikutip dari Suara.com. Komitmen ini disampaikan Bahlil dalam rangka memberikan ruang bisnis yang lebih luas di sektor energi bagi koperasi, khususnya Kopdes Merah Putih. Langkah ini diharapkan dapat menciptakan ekosistem usaha yang terintegrasi di tingkat desa dan kelurahan.
Pernyataan Bahlil ini muncul tak lama setelah Presiden Prabowo Subianto secara resmi meluncurkan 80.000 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih pada 21 Juli 2025 lalu. Penunjukan Kopdes Merah Putih sebagai sub-pangkalan LPG 3 kg ini akan menjadi bagian integral dari strategi besar pemerintah untuk memperkuat fondasi ekonomi di akar rumput.
Dari Jaringan Distribusi hingga Pemberdayaan Ekonomi Desa
Dalam perannya sebagai sub-pangkalan, Kopdes Merah Putih diharapkan tidak hanya menjadi titik jual semata. Menteri Bahlil menegaskan bahwa penunjukan ini akan melalui pertimbangan ketat, termasuk kuota LPG yang dialokasikan serta efektivitas dan produktivitas penyerapan LPG di tingkat sub-pangkalan. Ini menunjukkan bahwa meskipun niatnya adalah pemberdayaan, aspek efisiensi distribusi tetap menjadi prioritas.
Lebih dari sekadar penyalur LPG, Kopdes Merah Putih ini memang dirancang untuk memiliki unit bisnis yang beragam. Dari bahan yang dihimpun, koperasi ini diharapkan menjadi agen penyalur pupuk bersubsidi, toko kelontong, outlet perbankan, unit logistik, apotek desa, hingga unit simpan pinjam. Sebuah visi ambisius untuk menjadikan koperasi sebagai pusat perputaran ekonomi di desa.
Saat ini, tercatat lebih dari 81.000 desa dan kelurahan telah membentuk Kopdes Merah Putih, dengan sekitar 77.900 di antaranya telah dilegalkan secara resmi. Fase selanjutnya dari pengembangan ini akan berfokus pada penguatan kelembagaan koperasi dan pengembangan bisnis mereka, termasuk peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penentuan model bisnis yang tepat, serta pendampingan institusional dan bisnis.
Inisiatif Bahlil Lahadalia untuk melibatkan Koperasi Merah Putih dalam rantai pasok LPG 3 kg ini adalah langkah konkret pemerintah dalam mendekatkan akses energi kepada masyarakat sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis kerakyatan. Akankah Kopdes Merah Putih menjadi kunci sukses pemerataan LPG dan motor penggerak ekonomi desa? Kita tunggu implementasinya di lapangan.







