JAKARTA, RakyatMenilai.com – Perang melawan judi online (judol) tampaknya akan memasuki babak baru yang lebih serius. Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Meutya Hafid, baru-baru ini menyatakan bahwa upaya pemblokiran konten saja tidak cukup untuk memberikan efek jera. Untuk itu, ia kini mengalihkan fokus ke salah satu akar masalah yang paling sulit diatasi: transaksi keuangan.
Langkah strategis ini disampaikan oleh Menkomdigi setelah melakukan pertemuan penting dengan Dewan Ekonomi Nasional (DEN) dan Pusat Pelaporan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK).
Meutya Hafid melihat bahwa selama ini, upaya pemerintah memang masif, namun belum sepenuhnya efektif. Meskipun sudah ada pemblokiran, aktivitas judol tetap menjamur.
Dikatakannya, Kemkomdigi telah melakukan pemblokiran terhadap 1,7 juta konten judol. Angka yang fantastis, namun ironisnya, hal itu belum memberikan efek jera.
Inilah paradoks yang dihadapi pemerintah. Saat satu konten berhasil diblokir, konten baru dengan mudah muncul kembali, menciptakan lingkaran setan yang tak berujung.
Oleh karena itu, Meutya Hafid kini mengajak perbankan untuk berkolaborasi, dengan pendekatan yang lebih fundamental.
Ia meminta perbankan untuk memperketat proses verifikasi nasabah saat pembukaan rekening, sehingga pelaku judi online tidak bisa lagi dengan mudah membuat rekening baru setelah rekening mereka diblokir.
“Perbankan juga harus diminta untuk lebih ketat, sehingga pelaku tidak bisa membuat rekening lagi. Konten bisa dibuat ulang dengan mudah, tapi rekening sulit dibuka kembali setelah diblokir,” kata Meutya, menggarisbawahi logika di balik strategi barunya.
Menurut Menkomdigi, pengetatan regulasi ini akan memberikan efek jera yang nyata, karena menyentuh langsung jalur utama yang menggerakkan aktivitas judi online, yaitu uang.
Untuk memuluskan langkah tersebut, Meutya Hafid juga menyatakan akan menggandeng PPATK dalam pengawasan transaksi keuangan yang terindikasi sebagai judi online.
Kolaborasi lintas sektor ini diharapkan dapat memutus mata rantai dan aktivitas judi online dari tengah-tengah masyarakat. Sebuah langkah yang menyatukan teknologi dan regulasi.
Meutya berharap, dengan adanya sinergi ini, upaya pemerintah menjadi jauh lebih efektif.
“Ini bagus kalau disatukan. Jadi ada crawling kontennya dan ada juga crawling rekeningnya,” ujarnya, menunjukkan sebuah strategi dua arah: menyerang konten di satu sisi, dan mematikan aliran dana di sisi lain.
Dengan strategi baru yang lebih terintegrasi ini, pemerintah berharap dapat melampaui sekadar pemblokiran konten dan benar-benar menekan aktivitas judi online. Meutya Hafid menunjukkan bahwa solusi atas masalah ini bukan hanya soal teknologi, melainkan juga soal keberanian untuk menata ulang sistem yang sudah ada, dimulai dari perbankan.
Sumber: politiknesia







