Garda Terdepan Krisis! Meutya Hafid Apresiasi Kerja Senyap Relawan TIK di Wilayah Bencana Sumatera

Menteri141 Views

JAKARTA, rakyatmenilai.com — Di tengah situasi bencana yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, peran relawan tidak hanya terbatas pada bantuan logistik dan evakuasi fisik. Di balik layar, terdapat kerja senyap namun krusial yang memastikan masyarakat tetap terhubung dengan informasi dan akses komunikasi di saat kondisi paling genting.

​Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Meutya Hafid, memberikan apresiasi tinggi terhadap dedikasi Relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi (RTIK), Relawan Siberkreasi, serta Pandu Literasi Digital. Meski sebagian dari mereka turut menjadi korban, para relawan ini tetap bergerak mendampingi masyarakat terdampak.

​“Relawan TIK hadir bukan hanya untuk urusan teknologi. Di tengah bencana, mereka membantu masyarakat dan memastikan informasi tetap tersampaikan,” ujar Meutya dalam Temu Nasional Pegiat Literasi Digital 2025 di Jakarta, Rabu (17/12/2025), dikutip dari golkarpedia.com.

Komunikasi Publik yang Empati Sebagai “Penyambung Rasa”

Meutya Hafid, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar, menegaskan bahwa para relawan digital ini adalah penyambung informasi di wilayah krisis. Menurutnya, dalam kondisi darurat, informasi yang akurat dan menenangkan merupakan kebutuhan yang sama pentingnya dengan bantuan pokok.

​“Kementerian Komunikasi dan Digital memiliki peran dalam komunikasi publik yang empati. Dalam kondisi bencana dan situasi kritis, komunikasi sangat penting untuk menyambung rasa,” tutur Meutya.

​Ia secara khusus memuji kontribusi relawan di wilayah Sumatera yang sejak fase awal tanggap darurat aktif terlibat dalam upaya pemulihan serta pendampingan masyarakat. Kehadiran mereka membantu meredam kepanikan dan memastikan akses terhadap informasi penanganan bencana tetap terjaga.

Kolaborasi Pulihkan Layanan Komunikasi

​Selama masa tanggap darurat, Kemkomdigi di bawah kepemimpinan Meutya Hafid terus bersinergi dengan para relawan dan operator telekomunikasi untuk memulihkan infrastruktur digital yang terdampak. Hal ini krusial mengingat komunikasi menjadi kunci koordinasi antara petugas penyelamat dan warga.

​Kegiatan Temu Nasional Pegiat Literasi Digital 2025 ini diikuti oleh sekitar 800 relawan dari seluruh Indonesia. Forum ini bukan sekadar pertemuan rutin, melainkan menjadi momentum konsolidasi gerakan literasi digital nasional untuk lebih responsif terhadap situasi krisis dan bencana kemanusiaan di masa depan.

​Bagi Meutya, penguatan peran sosial relawan adalah bagian dari visi besar kementerian untuk memastikan seluruh rakyat Indonesia tetap “Terhubung, Tumbuh, dan Terjaga”, terutama di tengah cobaan bencana alam yang melanda tanah air.

​(Sumber: golkarpedia.com)