Isu nasionalisme di era digital kerap kali menjadi sorotan dalam banyak diskursus publik, seiring menguatnya peran media sosial sebagai ruang ekspresi generasi muda. Dalam tayangan podcast Ngopini bertajuk “Nasionalisme di Ujung Jempol: Masih Hidup Atau Terkubur Algoritma?” para narasumber menyoroti bagaimana makna nasionalisme mengalami pergeseran di tengah derasnya arus digitalisasi.
Sekretaris Jenderal Gerbang Bangsa, Hanif Adriansyah yang hadir sebagai salah satu narasumber, menilai bahwa ekspresi nasionalisme saat ini tidak lagi identik dengan simbol-simbol formal atau seremoni semata.
Ia menegaskan bahwa dalam ruang digital yang tanpa batas, setiap individu memiliki kebebasan untuk menyampaikan opini, namun tetap harus dibarengi dengan tanggung jawab etika.
“Jadi memang nasionalisme di era digital tidak lagi ditunjukkan dengan simbol dan seremoni. Karena kalau kita lihat di era digital seperti sekarang, tanpa batas. Kita bisa semua, kita bisa berikan opini secara bebas. Tapi yang kita inginkan, hendaknya kita selalu menjaga etika dalam bermedia sosial,” ujar Hanif Adriansyah.
Menurutnya, etika dalam bermedia sosial menjadi cerminan nyata dari sikap nasionalisme di era modern. Ia mengingatkan pentingnya menjaga ruang digital agar tidak dipenuhi oleh polarisasi yang justru merusak kohesi sosial.
“Sebab etika digital menjadi bentuk dari nasionalisme kita. Kita ingin ruang digital ini tidak dipenuhi arus polarisasi,” tegasnya.
Sementara itu, pandangan berbeda disampaikan oleh Bang Annam. Ia menilai bahwa nasionalisme generasi muda saat ini cenderung reaktif dan baru muncul ketika ada pemicu tertentu, terutama di ruang media sosial.
“Kalau saya melihatnya, masalah nasionalisme ini, anak muda sekarang terutama di media sosial dan media digital ini baru muncul nasionalismenya kalau dicubit atau tersakiti,” ujarnya.
Ia mencontohkan fenomena terbaru dalam dinamika warganet internasional, di mana semangat nasionalisme baru menguat ketika terjadi gesekan dengan pihak luar. Sebelum itu, menurutnya, justru terlihat kecenderungan konsumtif terhadap budaya asing.
“Contoh paling terbaru di masalah SEAblings, saat netizen Indonesia dibully oleh netizen Korea dibully oleh Knetz, baru bangkitlah nasionalismenya. Tapi sebelum itu luar biasa sekali rasa cinta sama Kpopnya. Sehingga kita tersadar kalau kita hanya jadi pasar, cuma jadi konsumen,” lanjutnya.
Pandangan tersebut diperkuat oleh Wakil Kepala Bidang Media Gerbang Indonesia, Brian Samosir, yang melihat fenomena nasionalisme digital melalui perspektif perilaku generasi muda di ruang maya. Ia mengaitkan hal ini dengan fenomena fear of missing out (FOMO) yang kerap memicu respons kolektif di media sosial.
“Kita bisa berangkat dari satu istilah, FOMO (Fear Of Missing Out), terkait dengan SEAblings ini menarik, ternyata nasionalisme kita bisa tumbuh dari percikan yang sangat sederhana,” ungkap Brian.
Namun demikian, ia mempertanyakan keberlanjutan dari semangat tersebut. Menurutnya, tantangan terbesar adalah bagaimana memastikan bahwa “percikan” nasionalisme itu dapat terus hadir dan tidak bersifat sesaat.
“Masalahnya apakah percikan itu selalu disediakan. Karena di dunia modern ini, kemudian ruang maya lah yang menjadi platform kita untuk menunjukkan ke-NKRI-an kita,” ujarnya.
Brian juga menyoroti bahwa berbagai program dan kegiatan yang dirancang untuk memperkuat nasionalisme sering kali belum menyentuh ruang digital secara optimal, padahal di sanalah generasi muda banyak berinteraksi.
“Tapi dalam perjalanannya, berbagai program, berbagai tindakan atau berbagai pelaksanaan kegiatan tidak menyentuh ruang-ruang itu,” pungkasnya.
Menariknya, perbincangan ini tidak berhenti pada tataran konsep, tetapi juga menyentuh realitas yang dekat dengan keseharian kita di dunia digital. Buat kamu yang ingin melihat lebih dalam bagaimana nasionalisme diuji di tengah algoritma, budaya populer, dan dinamika media sosial, langsung saja tonton podcast Ngopini berjudul “Nasionalisme di Ujung Jempol: Masih Hidup Atau Terkubur Algoritma?” di link berikut ini https://www.youtube.com/@NgopiniPodcast. {radaraktual}







