Kisah perjuangan Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, selama ini lebih banyak dipotret dari sisi politik dan perjuangannya melawan kolonialisme. Namun, di balik perjalanan besar tersebut, terdapat sosok perempuan yang dinilai memiliki peran luar biasa, tetapi belum memperoleh penghargaan yang layak dari negara.
Budayawan Muda Pamor Wicaksono mengangkat sisi lain kehidupan Bung Karno dalam podcast Ngopini bertajuk “Untold Story: Cinta, Pengorbanan, dan Wahyu Keprabon Sang Presiden” yang dipandu Bang Annam, Ajo Gilang, dan Mas Rezha.
Menurut Pamor, perjalanan hidup Soekarno tidak dapat dipisahkan dari sosok Inggit Garnasih, perempuan yang mendampingi Bung Karno sejak masa-masa paling sulit hingga akhirnya menjadi pemimpin bangsa.
“Tahun 1934 menjadi penanda ketika Putra Sang Fajar diasingkan ke Ende, sebuah pulau yang saat itu dikenal sebagai daerah endemis malaria. Di sana beliau ditemani Inggit Garnasih, perempuan yang usianya lebih tua dan memilih tetap setia mendampingi perjuangan Bung Karno,” ujar Pamor.
Pamor kemudian menuturkan kisah awal perjalanan hidup Soekarno sejak tinggal di rumah HOS Tjokroaminoto di Jalan Peneleh Gang VII Surabaya.
Di rumah tokoh Sarekat Islam itu, Soekarno muda tumbuh bersama calon-calon tokoh besar bangsa seperti Musso, Alimin, Semaun, Kartosuwiryo hingga Tan Malaka. Namun, kisah yang jarang diangkat publik justru terjadi ketika Bung Karno melanjutkan pendidikan di Bandung.
Kala itu Soekarno sempat menikahi putri HOS Tjokroaminoto, Oetari. Akan tetapi, kehidupan rumah tangga tersebut tidak berlangsung lama karena Bung Karno kemudian jatuh hati kepada Inggit Garnasih, yang saat itu masih berstatus istri Haji Sanusi, pemilik rumah tempat Bung Karno indekos.
Pamor menyebut fase tersebut sebagai salah satu babak paling kompleks dalam kehidupan pribadi Bung Karno.
“Saya kira inilah untold story yang jarang dibahas. Bung Karno tidak pernah menjelaskan secara rinci bagaimana pergulatan batinnya ketika harus mengembalikan Oetari kepada gurunya sendiri, HOS Tjokroaminoto, sekaligus memilih Inggit Garnasih yang saat itu masih menjadi istri orang lain. Itu bukan sekadar kisah cinta, tetapi juga pergulatan moral dan kemanusiaan yang luar biasa,” kata Pamor.
Menurutnya, perjalanan cinta tersebut akhirnya melahirkan pengorbanan besar dari Inggit Garnasih.
Ia mengingatkan bahwa Inggit tidak hanya menjadi istri, tetapi juga menjadi pendamping setia yang menemani Bung Karno melewati berbagai fase perjuangan, mulai dari Penjara Banceuy, Penjara Sukamiskin, pengasingan di Ende, hingga Bengkulu.
“Kalau bicara siapa yang merintis jalan perjuangan Bung Karno, saya melihat Inggit Garnasih berada di garis paling depan. Beliau menjual harta, mengurus kebutuhan hidup, mengantar makanan ke penjara, menyeka air mata, sekaligus menjaga semangat Bung Karno ketika banyak orang memilih menjauh,” ujarnya.
Karena jasa tersebut, Pamor berharap pemerintah memberikan penghormatan yang lebih tinggi kepada Inggit Garnasih.
“Saya berharap negara mengangkat Inggit Garnasih sebagai Pahlawan Nasional. Sejarah terlalu sering mengingat tokoh besar, tetapi lupa kepada orang yang menjaga agar tokoh besar itu tetap berdiri. Tanpa Inggit, perjalanan Bung Karno mungkin tidak akan menjadi seperti yang kita kenal hari ini,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Pamor juga menyinggung konsep Wahyu Keprabon, yakni keyakinan dalam tradisi Jawa mengenai legitimasi kepemimpinan yang diperoleh seseorang. Menurutnya, muncul pertanyaan menarik mengenai siapa sosok yang menjadi perantara hadirnya “wahyu” tersebut dalam perjalanan Bung Karno.
“Kalau memakai istilah anak-anak Gen Z, kita mengenal perbedaan antara pewaris dan perintis. Kalau yang merintis perjalanan Bung Karno, tentu Inggit Garnasih. Beliau mendampingi sejak masa paling gelap perjuangan,” ujarnya.
Namun Pamor mengingatkan bahwa Bung Karno sendiri memiliki pandangan berbeda. Dalam autobiografinya, Soekarno menyebut sang ibu, Ida Ayu Nyoman Rai, sebagai sosok yang sejak kelahirannya telah meyakini bahwa dirinya memiliki takdir besar, ditandai berbagai pertanda yang diyakini masyarakat kala itu.
Di sisi lain, Bung Karno juga pernah mengakui bahwa kasih sayang seorang ibu justru banyak ia rasakan dari pengasuhnya, Sarinah.
“Di sinilah menariknya perjalanan hidup Bung Karno. Secara biologis beliau sangat menghormati ibunya. Tetapi sentuhan kasih sayang seorang ibu justru beliau rasakan dari Sarinah. Bahkan nama mal pertama di Indonesia diabadikan sebagai Sarinah sebagai bentuk penghormatan kepada perempuan sederhana yang pernah mengasuhnya,” jelas Pamor.
Menurut Pamor, berbagai kisah tersebut memperlihatkan bahwa perjalanan Bung Karno tidak hanya dibentuk oleh strategi politik dan kecerdasannya sebagai negarawan, tetapi juga oleh perempuan-perempuan yang memberikan cinta, pengorbanan, serta ketulusan dalam setiap fase kehidupannya.
“Bung Karno adalah tokoh besar. Tetapi tokoh besar tidak pernah lahir sendirian. Selalu ada orang-orang yang rela mengorbankan hidupnya agar seorang pemimpin dapat menunaikan takdir sejarahnya. Dan salah satu nama yang menurut saya belum memperoleh penghormatan setimpal adalah Inggit Garnasih,” pungkasnya. {radaraktual}







