Guncangan Global: Tuntutan Kompensasi Iran dan Ancaman Runtuhnya Stabilitas Pasar

Berita, Opini8 Views

Teheran, Dunia internasional kini tengah menahan napas menyusul pernyataan provokatif dari Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani. Dalam sebuah pernyataan yang mengguncang stabilitas geopolitik, Larijani menegaskan bahwa perang tidak akan berakhir sebelum pihak lawan mengakui kedaulatan wilayah Iran dan setuju untuk membayar kompensasi atas kerusakan yang terjadi. Pernyataan ini menandai pergeseran posisi Iran dari sekadar bertahan menjadi pihak yang menetapkan syarat-syarat perdamaian (terms of peace).

​Ketegangan ini semakin diperuncing dengan retorika personal yang diarahkan kepada mantan Presiden AS, Donald Trump. Larijani secara terbuka menyatakan pembalasan dendam yang belum tuntas terkait peristiwa masa lalu.

​”Kami tidak akan membiarkan Trump tenang; ia harus membayar harganya. Ia menyebabkan syahidnya pemimpin kami dan rakyat kami, dan ini bukanlah hal sepele. Kami tidak akan membiarkannya sendirian sampai kami membalasnya dengan cara yang setimpal.”

​Pernyataan ini menegaskan bahwa konflik yang terjadi saat ini bukan sekadar kalkulasi militer di atas kertas, melainkan pertempuran harga diri yang sangat dalam bagi Teheran. Selat Hormuz, jalur nadi bagi 20% pasokan minyak dunia, telah memasuki hari kesembilan penutupan total. Dampaknya mulai terasa secara sistematis; harga minyak mentah kini merangkak naik mendekati angka $100 per barel, dengan perdagangan spot akhir pekan mencapai $96.

​Narasi kemenangan militer yang sering digaungkan oleh pihak Barat kini mulai dipertanyakan oleh banyak analis independen. Meskipun banyak peluncur misil Iran yang hancur, data menunjukkan bahwa infrastruktur militer strategis mereka masih sangat kuat. Setidaknya setengah dari program rudal balistik Iran dan sebagian besar kapabilitas drone mereka tetap utuh, tersembunyi di jaringan bawah tanah dan pemukiman yang hampir mustahil untuk dihancurkan sepenuhnya melalui serangan udara.

​Alih-alih mengalami keruntuhan rezim seperti yang diprediksi banyak pihak, Iran justru menunjukkan fenomena rally around the flag. Munculnya pemimpin baru yang dinilai lebih radikal justru memperkuat soliditas internal negara tersebut. Hal ini mematahkan spekulasi akan adanya pemberontakan rakyat di tengah tekanan militer. Sebaliknya, tekanan eksternal tampaknya telah menyatukan faksi-faksi di Teheran untuk menghadapi musuh bersama.

​Secara ekonomi, biaya perang ini telah menjadi beban yang tak tertahankan bagi aliansi Amerika Serikat dan Israel. Strategi Iran menggunakan drone murah seharga $20.000 untuk menguras rudal pencegat (interceptor) seharga $4 juta menciptakan rasio biaya 200:1 yang sangat merugikan. Dalam lima hari saja, AS dilaporkan telah menghabiskan $3,2 miliar untuk stok Patriot, padahal Pentagon hanya memiliki 25% dari stok yang dibutuhkan sebelum konflik ini pecah.

​Logistik militer AS kini berada dalam kondisi darurat, dengan penerbangan kargo C-17 yang terus-menerus mengangkut rudal dari Alabama menuju Israel. Kondisi ini mengingatkan banyak pihak pada memori kelam Perang Vietnam, di mana dominasi militer udara tidak serta merta menghasilkan kemenangan politik. Sejarah mencatat bahwa meski jutaan ton bom dijatuhkan, ketiadaan strategi keluar (exit strategy) dan biaya yang membengkak akhirnya memaksa penarikan pasukan.

​Pasar keuangan global pun mulai merasakan dampak destruktif dari kebuntuan ini. Pekan ini saja, sekitar $3,5 triliun nilai pasar telah terhapus dari lantai bursa. Para analis memproyeksikan kerugian yang jauh lebih besar, yakni sekitar $8-9 triliun, saat pasar dibuka kembali pada Senin pagi jika Selat Hormuz tetap tertutup. Jika harga minyak menyentuh $150 hingga $200 per barel, resesi global menjadi skenario yang hampir pasti terjadi.

Analisis Rakyat Menilai

​Strategi yang diterapkan Iran saat ini bukanlah untuk memenangkan pertempuran secara konvensional, melainkan untuk bertahan hidup (survival) hingga biaya perang menjadi tidak tertahankan bagi lawan. Pernyataan Larijani mengenai Donald Trump menunjukkan bahwa bagi Iran, ini adalah perang “utang nyawa” yang dicampur dengan kepentingan kedaulatan wilayah.

​Rakyatmenilai.com melihat bahwa posisi tawar Iran melalui Selat Hormuz adalah senjata ekonomi yang jauh lebih mematikan daripada rudal balistik manapun. Jika komunitas internasional tidak segera menemukan jalan keluar diplomatik, maka stabilitas ekonomi dunia akan menjadi tumbal utama. Pembukaan pasar pada Senin pagi akan menjadi hakim yang jujur bagi masa depan ekonomi global: apakah aliansi akan tetap bertahan, atau tuntutan kompensasi Iran mulai dipertimbangkan sebagai opsi yang lebih “murah” daripada kehancuran pasar total.

Sumber Atribusi: Antaranews

rakyatmenilai.com

Related Posts

Don't Miss