KH Nuridin Syamsudin Bicara Blak-Blakan: “Walisongo Dianggap Mandul? Ini Fitnah Sejarah!”

Daerah643 Views

BREBES – Sebuah peristiwa bersejarah digelar di jantung Kabupaten Brebes. Seminar Internasional Nasab Walisongo yang diselenggarakan oleh Naqobah Ansab Auliya Tis’ah (NAAT) di Pondok Pesantren Al Hasaniyah, Desa Rengaspendawa, Kecamatan Larangan, menjadi panggung pembelaan terhadap garis keturunan para tokoh besar penyebar Islam di Nusantara.

Acara bertema “Kebangkitan Dzuriyah Walisongo untuk Indonesia Emas 2045” ini tidak hanya dihadiri para ulama nasional, tetapi juga menghadirkan para ahli nasab dari Pakistan, Madinah, hingga Maroko. Wakil Bupati Brebes, Wurja, turut hadir mewakili Pemerintah Daerah dalam forum yang menyatukan sejarah, ilmu, dan warisan spiritual bangsa ini.

Namun sorotan utama tertuju pada pengasuh Ponpes Al Hasaniyah, KH Nuridin Syamsudin, yang tampil lantang menyuarakan keresahannya atas narasi keliru yang beredar belakangan ini.

“Walisongo dianggap fiktif dan garis keturunannya tidak sambung ke Nabi Muhammad SAW,” tegas KH Nuridin, Minggu (18/5/2025).

“Kalaupun masih ada yang mengakui keberadaannya, tangan-tangan jahil tak bertanggung jawab itu meniadakan keturunan Walisongo. Walisongo dianggap mandul dan tidak berketurunan,” lanjutnya dengan nada prihatin.

Dalam pernyataan penuh emosi itu, KH Nuridin menyebut bahwa narasi tersebut bukan hanya salah kaprah, tetapi berbahaya, karena bisa memutus akar sejarah keislaman yang telah berakar kuat di bumi Nusantara. Ia menegaskan bahwa nasab Walisongo sah dan bersambung langsung ke Rasulullah SAW, baik dari jalur Sayidina Hasan maupun Sayidina Husain.

Lebih lanjut, KH Nuridin menegaskan bahwa mayoritas keturunan sah Walisongo kini tergabung dalam NAAT, lembaga resmi pencatat nasab dan kekerabatan Walisongo yang diakui dunia internasional. NAAT, menurutnya, telah terhubung dengan Naqabah Saadatul Asyraf dari berbagai negara, termasuk Pakistan, Maroko, Mesir, dan Madinah.

Ketua DPP NAAT, KHR Ilzamuddin Sholeh Al-Jilani Al-Hasani, juga angkat bicara usai seminar. Ia memaparkan bahwa pembahasan para ahli nasab kali ini berdasarkan manuskrip kuno yang sezaman dengan masa Walisongo.

“Dua narasumber dari Naqib Pakistan dan Maroko memaparkan silsilah Walisongo disertai manuskrip yang tersambung ke Syekh Jumadil Kubro hingga Sayidina Hasan RA dan Sayidina Husain RA, cucu dari Nabi Muhammad SAW,” ungkap KHR Ilzamuddin tegas.

Dalam seminar ini hadir sejumlah tokoh internasional penting, antara lain:

  • Maulaya Syarif Ahmad Muhib bin Abdullah Al-Murabithi Al-Hasani (Naqib Saadatul Asyraf Kerajaan Maroko),
  • Sayyid Ali Abbas Al-Jilani Al-Hasani (Naqib Saadatul Asyraf Pakistan),
  • Syarif Anas bin Ya’qub Al-Kutbi Al-Hasani (Nasabah Madinah Munawwarah),
  • dan Dr Tun Suzana Tun Hj Othman dari Malaysia, Ketua Perhimpunan Besar Kekerabatan Syaikh Jumadil Kubra se-Asia Tenggara.

Para tokoh ini menyampaikan kajian ilmiah yang memperkuat eksistensi dan keabsahan nasab Walisongo sebagai bagian dari keturunan Rasulullah SAW yang memiliki peran besar dalam membentuk wajah Islam Nusantara.

Sementara itu, Wakil Bupati Brebes, Wurja, yang hadir secara langsung, memberikan penekanan penting kepada seluruh peserta.

“Meski ada perbedaan dalam masalah (nasab) ini, jangan sampai menimbulkan perpecahan. Utamakan semangat persatuan,” tegasnya dalam sambutannya.

Seminar ini menjadi momen langka: ketika silsilah spiritual dan bukti historis bertemu dalam satu ruang, memperkuat kembali identitas Islam Nusantara yang selama ini menjadi ciri khas Indonesia di mata dunia.

sumber: detik