​Pamor Wicaksono Soroti Warisan Sejarah Soeharto: Dari Serangan Umum 1 Maret hingga Trilogi Pembangunan

Parlemen101 Views

BREBES – Anggota Fraksi Partai Golkar DPRD Brebes, Pamor Wicaksono, memaknai peringatan Haul ke-18 Presiden ke-2 RI Soeharto pada 27 Januari 2026 sebagai ruang penting untuk membaca ulang sejarah bangsa secara utuh. Ia menilai sosok Soeharto memiliki jejak pengabdian yang mendalam, mulai dari perjuangan fisik di masa revolusi hingga peletakan dasar pembangunan ekonomi nasional.

​Sebagaimana dilansir dari laman golkarpedia.com, Pamor menyoroti bahwa penetapan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Prabowo Subianto pada November 2025 lalu merupakan pengakuan atas kontribusi krusial sang jenderal besar dalam berbagai peristiwa bersejarah yang menentukan nasib Republik.

​Titik Balik Diplomasi Lewat Serangan Umum 1 Maret

​Pamor menjelaskan bahwa salah satu bukti kuat perjuangan Soeharto terlihat pada peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949. Aksi heroik tersebut dipandang sebagai titik balik diplomasi yang membuktikan kepada mata internasional bahwa Indonesia masih ada dan berdaulat.

​“Penetapan pahlawan itu selaras dengan perjuangan Pak Harto. Salah satunya bisa dilihat dari peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949 yang mengguncang perhatian dunia internasional dan memperkuat posisi Indonesia di meja perundingan,” ujar Pamor seperti dikutip dari laporan golkarpedia.com.

​Peristiwa tersebut, lanjut Pamor, membuka jalan menuju Konferensi Meja Bundar (KMB) yang akhirnya berujung pada pengakuan kedaulatan internasional atas Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.

​Trilogi Pembangunan dan Swasembada Pangan

​Selain aspek militer dan diplomasi, Pamor juga menyinggung konsep Trilogi Pembangunan yang menjadi ciri khas kepemimpinan Soeharto. Stabilitas nasional, pertumbuhan ekonomi, dan pemerataan pembangunan diakuinya telah membentuk pengalaman kolektif masyarakat terhadap terpenuhinya kebutuhan dasar.

​Salah satu capaian monumental yang diingat adalah keberhasilan Indonesia mencapai Swasembada Pangan pada tahun 1984. Melalui revolusi hijau dan penyuluhan pertanian yang masif, Pak Harto berhasil mengubah Indonesia dari negara pengimpor beras terbesar di dunia menjadi negara yang mampu mencukupi kebutuhan pangannya sendiri, sebuah prestasi yang bahkan diakui dunia melalui penghargaan dari FAO.

​“Bagi sebagian masyarakat, masa itu identik dengan terpenuhinya kebutuhan dasar seperti sandang, pangan, dan papan. Kita perlu melihat sisi pengabdian putra-putra terbaik bangsa yang telah mendedikasikan diri kepada negara,” tutur legislator asal Brebes tersebut.

​Ruang Belajar bagi Generasi Muda

​Pamor berharap peringatan haul ini tidak sekadar menjadi seremoni tahunan atau bentuk nostalgia romantis semata. Baginya, haul adalah sarana pembelajaran sejarah yang hidup bagi generasi muda agar dapat memahami nilai kepemimpinan secara kritis untuk bekal masa depan Indonesia.

​“Nilai-nilai pengabdian itu penting untuk dipahami secara kritis agar menjadi pelajaran ke depan bagi anak bangsa,” pungkasnya sebagaimana dilansir melalui kanal informasi golkarpedia.com.