BALIKPAPAN, rakyatmenilai.com – Indonesia berada di ambang sejarah baru dalam kemandirian energi. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa mulai tahun ini, Indonesia tidak lagi akan bergantung pada impor bahan bakar minyak (BBM) jenis solar. Sebaliknya, Indonesia diproyeksikan akan mengalami surplus produksi sebesar 1,4 juta kiloliter (kl).
Langkah besar ini merupakan buah dari konsistensi pemerintah dalam melakukan modernisasi infrastruktur energi dan hilirisasi sumber daya alam. Bahlil menyebutkan, perhitungan antara kapasitas produksi dalam negeri kini telah melampaui tingkat konsumsi nasional.
“Impor solar kita yang sebelumnya 5 juta kl sudah tertutupi sepenuhnya. Bahkan, kita surplus 1,4 juta kl,” ujar Bahlil saat meninjau fasilitas energi di Balikpapan, Selasa (13/1/2026).
Dua Kunci Utama: Kilang Balikpapan dan Mandatori B50
Dalam penjelasannya, Bahlil mengungkapkan dua faktor strategis yang menjadi mesin utama di balik kedaulatan solar nasional. Pertama adalah pengoperasian penuh kilang hasil modernisasi di Balikpapan yang baru saja diresmikan. Kilang ini mampu memproduksi hingga 1,8 juta kl solar per tahun dan menghemat devisa negara hingga Rp14,9 triliun.
Faktor kedua adalah implementasi kebijakan Biodiesel B50. Program ini merupakan lonjakan dari B40, di mana campuran bahan bakar nabati kini mencapai 50 persen minyak sawit. Inovasi ini secara drastis menekan konsumsi solar berbasis fosil.
“Alhamdulillah atas perintah Bapak Presiden, mulai sekarang yang kita bicarakan adalah tidak ada lagi impor solar ke depan,” tegas menteri yang juga merupakan kader terbaik Partai Golkar tersebut.
Target Berikutnya: Eliminasi Impor Solar Industri (CN 51)
Meski telah swasembada untuk solar spesifikasi cetane number (CN) 48, Bahlil mengakui masih ada impor terbatas untuk solar spesifikasi CN 51 yang biasa digunakan sektor industri, dengan jumlah sekitar 600 ribu kl.
Namun, Bahlil tidak ingin berlama-lama dengan kondisi tersebut. Ia telah menginstruksikan Pertamina untuk segera menyiapkan infrastruktur produksi CN 51 agar ketergantungan impor benar-benar hilang secara total pada semester kedua tahun ini.
Komitmen untuk Kedaulatan Ekonomi
Keberhasilan menghentikan impor solar ini menjadi bukti nyata kapasitas Bahlil Lahadalia dalam mengeksekusi visi besar pemerintah. Penghematan devisa triliunan rupiah dari sektor energi diharapkan dapat dialokasikan untuk pembangunan sektor lain yang menyentuh langsung kepentingan rakyat.
Dengan beroperasinya kilang Balikpapan dan suksesnya program B50, Indonesia kini bukan hanya penonton di pasar energi global, melainkan pemain yang mandiri dan berdikari. {RMOL}







