Bahlil Lahadalia Dorong Diversifikasi Energi untuk Hadapi Krisis Global

Menteri36 Views

Cebu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, mendampingi Presiden Prabowo Subianto pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-48 di Cebu, Filipina, untuk memastikan stabilitas energi nasional tetap terjaga melalui langkah-langkah diversifikasi energi. Sebab, kondisi energi kini sedang tidak menentu di tengah gejolak geopolitik di Timur Tengah yang memicu ketidakpastian pasokan minyak mentah global.

“Kondisi energi global saat ini sedang tidak menentu. Kita harus lakukan diversifikasi energi, agar ketika satu sumber energi sulit didapat, kita masih punya sumber energi yang lain,” kata Bahlil dalam keterangannya, Sabtu (9/5/2026), dikutip dari Sinpo.

Pernyataan Bahlil ini menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh hanya bergantung pada satu jenis sumber energi. Gejolak di Timur Tengah yang kerap mengganggu pasokan minyak dunia menjadi alarm bahwa kemandirian energi harus segera diwujudkan melalui keberagaman sumber.

Bahlil menjelaskan, pertemuan kali ini dilakukan untuk memastikan ketahanan dan resiliensi energi di kawasan ASEAN, melalui upaya-upaya diversifikasi energi. Hal ini menjadi salah satu kunci menghadapi krisis energi yang tengah melanda dunia global saat ini. Tanpa diversifikasi, negara-negara di kawasan akan mudah terguncang saat rantai pasok global terputus.

Ketua Umum Partai Golkar ini menerangkan, Indonesia yang dianugerahi potensi energi terbarukan yang melimpah, telah memanfaatkan berbagai sumber energi alternatif sebagai upaya mencapai ketahanan dan kemandirian energi. Kekayaan alam Nusantara berupa sinar matahari, angin, air, hingga panas bumi adalah modal besar yang tidak dimiliki semua negara.

Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 Gigawatt, mandatori biodiesel yang akan segera ditingkatkan menjadi 50 Persen (B50), hingga peningkatan penggunaan kendaraan listrik, menjadi langkah-langkah utama prioritas Pemerintah. Angka 100 gigawatt PLTS menunjukkan skala ambisi Indonesia yang tidak main-main dalam transisi energi.

“Beruntung Indonesia memiliki banyak sumber energi alternatif selain fosil, yang juga berperan strategis pada upaya ketahanan energi,” ucapnya.

Pernyataan ini senada dengan yang disampaikan Presiden Prabowo pada sesi pleno KTT ASEAN ke-48 kali ini. Prabowo menyampaikan, negara-negara ASEAN harus siap menghadapi gangguan pada pasokan energi yang dapat terjadi berkepanjangan. Tidak ada yang bisa memprediksi kapan konflik berikutnya akan meledak dan berdampak pada harga serta ketersediaan energi.

Menurutnya, ketahanan energi kawasan tidak dapat dibangun secara reaktif, tetapi harus dipersiapkan secara proaktif melalui pendekatan yang jelas dan berorientasi ke depan. Negara-negara ASEAN harus belajar dari krisis energi Eropa akibat perang Ukraina yang mengguncang stabilitas ekonomi kawasan tersebut.

Prabowo juga menyerukan kepada para Kepala Negara ASEAN untuk bergerak cepat beralih kepada sumber energi alternatif, memperluas pemanfaatan energi terbarukan, dan memperkuat kesiapan menghadapi skenario global. Seruan ini penting mengingat ASEAN adalah kawasan dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia, sehingga kebutuhan energinya akan terus melonjak.

“Diversifikasi energi bukan lagi pilihan. Ini sangat penting, ini perlu. Kita harus bergerak lebih cepat. Kita harus melalui sumber alternatif dan kita harus mempersiapkan energi terbarukan,” kata Prabowo.

Pernyataan tegas Presiden Prabowo di forum internasional ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya berteori, tetapi juga sudah memiliki peta jalan konkret seperti pembangunan PLTS raksasa 100 GW dan mandatori B50. Dengan langkah-langkah ini, Indonesia ingin menjadi pemimpin transisi energi di kawasan Asia Tenggara.

Dampingan Bahlil kepada Prabowo di KTT Cebu juga menandakan sinergi yang erat antara eksekutif di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo dan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. Kerja sama ini penting agar kebijakan diversifikasi energi tidak hanya menjadi wacana, tetapi terealisasi dengan cepat.

Kini publik menanti realisasi dari komitmen-komitmen besar ini. Apakah PLTS 100 GW akan benar-benar dibangun, apakah B50 akan berjalan mulus tanpa mengganggu ketahanan pangan, dan apakah kendaraan listrik akan benar-benar menggeser dominasi kendaraan berbahan bakar fosil. Jika semua berjalan sesuai rencana, Indonesia tidak hanya akan tahan terhadap krisis energi global, tetapi juga menjadi contoh bagi negara-negara berkembang lainnya.

rakyatmenilai.com
Referensi Utama Analisis Kebijakan Dan Geopolitik