Bahlil Lahadalia Sebut CNG Berpotensi Gantikan LPG 3 Kilogram, Uji Coba Sedang Berjalan

Menteri123 Views

Jakarta, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan pemerintah tengah mengkaji penggunaan Compressed Natural Gas (CNG) sebagai alternatif pengganti LPG tabung 3 kilogram guna mengurangi ketergantungan impor energi. Langkah ini menjadi bagian dari upaya jangka panjang menuju kemandirian energi nasional.

Usai menghadiri rapat terbatas di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (5/5/2026), Bahlil menjelaskan bahwa CNG bukan teknologi baru karena telah digunakan di sektor perhotelan, restoran, hingga program Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun, pemanfaatannya selama ini masih terbatas pada tabung berkapasitas besar di atas 10 hingga 20 kilogram. Kini pemerintah ingin menghadirkan CNG dalam skala rumah tangga.

Pemerintah saat ini tengah melakukan uji coba pengembangan tabung CNG berukuran kecil setara LPG 3 kilogram. Ia menyebut tantangan utama berada pada aspek teknis karena tekanan gas CNG jauh lebih tinggi, yakni sekitar 200 hingga 250 bar. Tekanan ini sangat berbeda dengan LPG yang hanya sekitar 8-10 bar, sehingga membutuhkan teknologi tabung yang jauh lebih kuat dan aman.

“Untuk ukuran 3 kilogram, tabungnya masih dalam tahap uji coba karena tekanannya cukup besar. Dalam dua hingga tiga bulan ke depan kami harapkan sudah ada hasilnya,” kata Bahlil, dikutip dari Antaranews.

Pernyataan Bahlil ini sekaligus memberikan tenggat waktu yang jelas bagi publik. Dalam hitungan dua hingga tiga bulan ke depan, masyarakat akan mengetahui apakah konversi dari LPG ke CNG layak dilakukan secara massal atau masih memerlukan penyesuaian teknis yang lebih panjang.

Ia menambahkan, apabila hasil uji coba dinyatakan layak, pemerintah membuka peluang konversi bertahap dari LPG ke CNG untuk kebutuhan rumah tangga. Konversi bertahap ini penting mengingat jumlah pengguna LPG 3 kilogram di Indonesia mencapai puluhan juta rumah tangga, sehingga tidak bisa dilakukan secara instan.

Menurut Bahlil, CNG memiliki keunggulan karena seluruh bahan bakunya tersedia di dalam negeri, termasuk sumber gas alam yang melimpah. Selain itu, pemerintah juga menemukan cadangan gas baru di Kalimantan Timur yang berpotensi dialokasikan untuk kebutuhan domestik. Dengan demikian, rantai pasok CNG tidak akan terganggu oleh fluktuasi harga global atau konflik geopolitik.

Terkait skema subsidi, lanjut dia, pemerintah masih melakukan kajian menyeluruh. Opsi pemberian subsidi tetap terbuka, namun mekanisme dan volumenya masih dalam pembahasan. Isu subsidi menjadi krusial karena selama ini LPG 3 kilogram disubsidi besar-besaran, sementara CNG yang lebih murah secara alamiah mungkin memerlukan skema subsidi yang berbeda.

“Semua masih dikaji, termasuk kemungkinan subsidi dan besaran volumenya,” ujarnya.

Secara ekonomi, Bahlil memperkirakan harga CNG sekitar 30 persen lebih murah dibandingkan LPG karena tidak bergantung pada impor serta memiliki biaya distribusi yang lebih rendah. Jika perkiraan ini akurat, maka konversi ke CNG tidak hanya mengurangi beban subsidi negara tetapi juga meringankan pengeluaran rumah tangga miskin yang menjadi target penerima subsidi.

Ia menegaskan penggunaan CNG dalam skala besar telah berjalan di sejumlah daerah, terutama di Pulau Jawa, sehingga secara teknologi dinilai siap untuk dikembangkan lebih luas sebagai solusi energi nasional yang lebih mandiri dan efisien. Pengalaman di sektor perhotelan dan restoran menjadi bukti bahwa CNG aman digunakan selama tabung dan regulator memenuhi standar teknis.

Tantangan terbesar yang tidak disebutkan secara eksplisit namun patut dicermati adalah aspek psikologis dan perilaku masyarakat. Selama puluhan tahun, masyarakat terbiasa dengan tabung LPG hijau berisi 3 kilogram. Beralih ke CNG dengan tabung yang berbeda bentuk, berat, dan tekanan akan memerlukan sosialisasi masif dan uji coba yang benar-benar meyakinkan.

Selain itu, distribusi CNG juga membutuhkan infrastruktur pengisian yang tidak sederhana. Berbeda dengan LPG yang bisa diisi di pangkalan-pangkalan kecil, CNG dengan tekanan tinggi memerlukan stasiun pengisian khusus yang hingga saat ini jumlahnya masih terbatas.

Pemerintah kini berada di fase krusial menunggu hasil uji coba tabung CNG 3 kilogram. Jika berhasil, maka Indonesia akan menjadi salah satu negara pertama di dunia yang mengonversi subsidi LPG impor ke CNG domestik secara besar-besaran. Jika gagal, maka ketergantungan pada LPG impor akan terus membelenggu fiskal negara.

Publik pun menanti, apakah Bahlil mampu membawa terobosan ini melewati uji teknis dan politik, atau akan kandas seperti sejumlah proyek konversi energi sebelumnya. Yang pasti, janji harga 30 persen lebih murah dan kemandirian energi adalah prospek yang sangat menggoda bagi rakyat Indonesia.

rakyatmenilai.com
Referensi Utama Analisis Kebijakan Dan Geopolitik