​Donald Trump Terlambat Bendung China di Amerika Latin: Data Perdagangan Tembus USD 480 Miliar

Politik44 Views

WASHINGTON D.C. – Rencana Presiden Amerika Serikat terpilih, Donald Trump, untuk menghidupkan kembali “Doktrin Monroe” menghadapi tembok besar berupa realitas angka. Langkah Trump yang ingin memutus pengaruh China dari kawasan Amerika Latin dinilai banyak pihak sudah terlambat, mengingat Beijing telah mengunci posisi sebagai mitra dagang utama dengan volume transaksi yang melonjak fantastis dalam dua dekade terakhir.

​Data menunjukkan bahwa nilai perdagangan bilateral antara China dan Amerika Latin telah meroket dari hanya sekitar USD 12 miliar pada tahun 2000 menjadi lebih dari USD 480 miliar pada tahun 2023. Lonjakan lebih dari 40 kali lipat ini mencerminkan betapa dalamnya penetrasi ekonomi Beijing di wilayah yang secara historis dianggap sebagai “halaman belakang” Washington tersebut.

​Dominasi Komoditas: Kedelai Brasil hingga Tembaga Chili

​Ketergantungan Amerika Latin terhadap pasar China kini bersifat struktural. China saat ini merupakan tujuan ekspor utama bagi raksasa ekonomi kawasan seperti Brasil, Chili, dan Peru. Di Brasil, China menyerap lebih dari 30% dari total ekspor negara tersebut, terutama komoditas kedelai dan bijih besi.

​Begitu pula dengan Chili, di mana China menguasai pangsa pasar ekspor tembaga dan produk pertanian seperti ceri dengan nilai mencapai puluhan miliar dolar setiap tahunnya. Bagi negara-negara ini, mengikuti kemauan Trump untuk menjauh dari China bukan sekadar pilihan politik, melainkan risiko kebangkrutan ekonomi nasional.

​Infrastruktur Strategis dan Pelabuhan Chancay

​Salah satu bukti fisik kegagalan AS membendung China adalah pembangunan Pelabuhan Chancay di Peru. Proyek senilai USD 3,5 miliar yang didanai oleh perusahaan raksasa China, Cosco Shipping, ini akan menjadi hub utama Pasifik.

​Pelabuhan ini diproyeksikan mampu memangkas waktu pengiriman barang dari Amerika Selatan ke Asia sebanyak 10 hingga 15 hari. Dengan infrastruktur ini, ketergantungan logistik pada jalur-jalur yang dipengaruhi AS semakin berkurang, memberikan otonomi ekonomi yang lebih besar bagi negara-negara Amerika Latin untuk bertransaksi langsung dengan pasar Timur.

​Krisis Litium dan Dominasi Rantai Pasok

​Di sektor energi masa depan, Trump juga menghadapi asimetri yang tajam. Kawasan yang dikenal sebagai “Segitiga Litium” (Chili, Argentina, dan Bolivia) menyimpan sekitar 60% cadangan litium dunia. Meskipun AS tertarik pada sumber daya ini untuk industri kendaraan listriknya, China telah lebih dulu menguasai 60% hingga 80% kapasitas pemurnian litium global.

​Hal ini membuat AS berada dalam posisi sulit; mereka mungkin bisa menekan secara politik, namun secara teknis dan industri, mereka tetap membutuhkan rantai pasok yang dikendalikan oleh Beijing untuk memproses bahan mentah tersebut menjadi baterai.

​Realitas Baru: Tekanan Dolar vs Kepentingan Perut

​Di sisi lain, Washington saat ini tertekan oleh beban utang yang mewajibkan mereka untuk melakukan roll over utang sebesar kurang lebih USD 5 triliun setiap tahunnya. Keinginan Trump untuk menjadikan aset minyak Venezuela sebagai kolateral untuk memperkuat dolar berbenturan dengan fakta bahwa China telah menginvestasikan miliaran dolar dalam infrastruktur minyak extra-heavy di sana dan menyerap 70% ekspor minyak negara tersebut.

​Pada akhirnya, perubahan peta kekuatan di Amerika Latin ini menegaskan bahwa dunia kini telah bergeser dari era diplomasi kapal perang ke era integrasi rantai pasok. Upaya Donald Trump untuk menghidupkan kembali Doktrin Monroe akan terus berhadapan dengan realitas material di lapangan: China bukan lagi sekadar tamu perdagangan, melainkan penyokong utama infrastruktur dan pasar yang telah menjadi urat nadi ekonomi regional Amerika Latin.

Analisis Rakyat Menilai:

Angka perdagangan sebesar USD 480 miliar adalah “armor” ekonomi bagi Amerika Latin. Selama AS tidak bisa menawarkan pasar alternatif dengan skala yang sama atau investasi infrastruktur yang lebih masif, kebijakan proteksionisme Trump hanya akan mendorong negara-negara Amerika Latin semakin merapat ke dalam pelukan Beijing demi kelangsungan hidup ekonomi mereka.

Sumber