Dunia di Ambang Perang Terbuka: Serangan Udara ke Kabul Seret Krisis Pakistan-Taliban ke Titik Nadir

Berita, Trending23 Views

KABUL – Eskalasi konflik di Asia Selatan mencapai level yang paling membahayakan dalam satu dekade terakhir. Pakistan secara resmi mengumumkan status “perang terbuka” terhadap pemerintahan Taliban di Afghanistan setelah melancarkan serangkaian serangan udara masif ke ibu kota Kabul serta kota-kota strategis lainnya seperti Kandahar dan Paktika. Langkah drastis Islamabad ini menandai runtuhnya sisa-sisa stabilitas di perbatasan yang selama ini memang sudah rapuh.

​Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Asif, menegaskan bahwa kesabaran negaranya telah habis. Serangan udara tersebut diklaim sebagai respons atas apa yang disebut Islamabad sebagai “penembakan tanpa provokasi” dari wilayah Afghanistan serta maraknya aksi terorisme lintas batas yang diduga didukung oleh otoritas Taliban. Krisis ini kini memasuki wilayah yang belum terpetakan (uncharted territory), di mana konfrontasi militer langsung antarnegara bukan lagi sekadar ancaman, melainkan realitas di lapangan.

​Pemerintahan Taliban di Kabul tidak tinggal diam. Mereka melaporkan telah melancarkan serangan balasan terhadap pasukan perbatasan Pakistan dan mengklaim berhasil menawan beberapa tentara, meskipun hal ini dibantah keras oleh Islamabad. Di tengah saling klaim kemenangan militer, suara ledakan dan kepulan asap hitam di langit Kabul menjadi saksi bisu betapa cepatnya diplomasi berganti menjadi desingan peluru.

Kegagalan Diplomasi dan Pemicu ‘Perang Terbuka’

​Akar dari ledakan konflik ini bermula dari kemarahan Pakistan terhadap kelompok Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP). Islamabad menuduh Taliban Afghanistan memberikan perlindungan dan basis operasi bagi TTP untuk meluncurkan serangan mematikan di tanah Pakistan, termasuk pemboman masjid di Islamabad awal bulan ini yang menewaskan puluhan orang. Meskipun Kabul berulang kali membantah tuduhan tersebut, Pakistan tetap meluncurkan “Operasi Ghazab lil-Haq” sebagai bentuk penghukuman.

​Upaya mediasi yang sebelumnya dirintis oleh Qatar, Turkiye, dan Arab Saudi tampaknya menemui jalan buntu. Gencatan senjata yang sempat bertahan selama beberapa bulan pecah berkeping-keping seiring dengan meningkatnya intensitas baku tembak di sepanjang Garis Durand. Kegagalan negosiasi ini menunjukkan betapa dalamnya ketidakpercayaan antara kedua belah pihak yang kini lebih memilih bahasa kekuatan militer daripada meja perundingan.

​“Pakistan tidak akan lagi membiarkan tanahnya menjadi sasaran empuk kelompok bersenjata yang bersembunyi di balik perbatasan. Ini adalah perang terbuka untuk melindungi kedaulatan kami,” tegas otoritas keamanan Pakistan, sebagaimana dilaporkan oleh Al Jazeera, Jumat (27/2/2026).

Dampak Kemanusiaan dan Reaksi Internasional

​Serangan udara Pakistan ke wilayah pemukiman di Kabul dan Nangarhar dilaporkan telah memakan korban sipil yang tidak sedikit, termasuk perempuan dan anak-anak. Organisasi kemanusiaan internasional memperingatkan bahwa konflik ini akan memperburuk krisis pangan dan kesehatan yang sudah mencekik rakyat Afghanistan. Penutupan jalur perbatasan utama juga menyebabkan ribuan warga terjebak dan memutus rantai pasok kebutuhan pokok bagi kedua negara.

​Dunia internasional bereaksi dengan kecemasan tinggi. Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, mendesak kedua belah pihak untuk menahan diri secara maksimal dan memprioritaskan perlindungan warga sipil. Sementara itu, Iran dan Rusia telah menawarkan diri untuk memediasi guna mencegah konflik ini meluas menjadi perang regional yang lebih besar di tengah bulan suci Ramadan.

​Di sisi lain, India mengecam keras serangan udara Pakistan, menyebutnya sebagai upaya Islamabad untuk mengeksternalisasi kegagalan domestik mereka. Ketegangan ini semakin rumit dengan adanya rivalitas geopolitik, di mana Pakistan menuduh adanya pengaruh pihak ketiga yang mencoba merusak stabilitas kawasan melalui dukungan terhadap kelompok bersenjata di Afghanistan.

Kedaulatan yang Terkoyak di Garis Perbatasan

​Bagi Taliban, serangan udara ke ibu kota Kabul adalah pelanggaran kedaulatan yang sangat serius. Mereka berargumen bahwa sebagai pemerintahan yang sah, mereka berhak memberikan “respons yang terukur dan diperhitungkan” terhadap setiap agresi asing. Hal ini memicu gelombang sentimen nasionalisme di kalangan rakyat Afghanistan yang mulai bersatu di belakang pemerintahan Taliban demi mempertahankan kehormatan wilayah mereka.

​Namun, di sisi Pakistan, tekanan publik terhadap pemerintah sangat besar untuk segera menghentikan gelombang terorisme yang menghantam kota-kota mereka. Dilema keamanan ini membuat kedua negara terjebak dalam lingkaran setan kekerasan; setiap serangan udara akan dibalas dengan serangan perbatasan, dan setiap serangan perbatasan akan memicu pemboman lebih lanjut.

​Stabilitas di Asia Selatan kini berada di titik kritis. Keberhasilan atau kegagalan dalam meredam api peperangan ini dalam beberapa hari ke depan akan menentukan apakah kawasan ini akan terjun ke dalam kegelapan perang berkepanjangan atau mampu kembali ke jalur perdamaian yang inklusif.

rakyatmenilai.com memandang konfrontasi Pakistan-Taliban ini sebagai pengingat pahit bahwa perdamaian tidak pernah bisa dibangun di atas rasa saling curiga yang akut. Kebijakan “perang terbuka” Pakistan mungkin terasa tegas di mata domestik, namun secara strategis berisiko menciptakan musuh permanen di perbatasan barat mereka. Serangan ke ibu kota negara lain adalah eskalasi yang sulit untuk ditarik kembali langkahnya.

​Rakyat menilai, kegagalan dalam membedakan antara penanganan terorisme dan agresi militer terhadap negara tetangga hanya akan merugikan warga sipil di kedua belah pihak. Di tengah dunia yang sedang tidak stabil, tambahan satu titik api peperangan di Kabul adalah kabar buruk bagi kedaulatan dan kemanusiaan. Diplomasi harus segera dikedepankan sebelum mesin perang benar-benar menghancurkan sisa-sisa harapan akan stabilitas di tanah Asia Selatan. {}