Ironi Kapal Induk Rp205 Triliun AS: Canggih di Udara, Lumpuh di Kamar Mandi Akibat Krisis Sanitasi

Berita7 Views

WASHINGTON D.C. – Simbol kekuatan militer supremasi Amerika Serikat, USS Gerald R. Ford, kini tengah dirundung masalah memalukan yang jauh dari kesan gagah. Kapal induk nuklir terbaru dan termahal di dunia ini dilaporkan mengalami krisis sistem pembuangan limbah (sewage system) yang kronis. Ironisnya, kapal yang dirancang untuk menggentarkan lawan dengan teknologi peluncuran pesawat tercanggih ini justru harus bertekuk lutut di hadapan masalah saluran air dan toilet yang mampet.

​Masalah ini mencuat ke permukaan setelah laporan internal menunjukkan frekuensi kerusakan yang mengkhawatirkan. Sepanjang tahun 2025 saja, tercatat ada 32 panggilan servis darurat terkait sistem limbah, dari total 42 panggilan sejak 2023. Skandal “toilet mampet” ini menjadi sorotan tajam karena terjadi di atas aset militer senilai USD 13 miliar atau setara dengan Rp205 Triliun lebih.

​USS Gerald R. Ford menampung lebih dari 4.500 pelaut dengan fasilitas lebih dari 600 toilet yang terbagi dalam 10 zona independen. Namun, teknologi Vacuum Collection, Holding and Transfer (VCHT) yang diadaptasi dari kapal pesiar komersial tersebut ternyata tidak mampu menahan beban kerja ekstrem di sebuah kapal perang yang beroperasi tanpa henti di samudera.

Kegagalan Desain di Balik Kemewahan Teknologi

​Laporan pengawasan sejak dini sebenarnya telah memperingatkan adanya cacat desain, terutama pada ukuran pipa yang terlalu sempit untuk melayani ribuan kru. Kerusakan ini sering kali menyebabkan kebocoran dan luapan limbah yang tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga menciptakan kondisi yang tidak higienis bagi para prajurit yang bertugas.

​Teknisi di atas kapal dilaporkan harus bekerja hingga 19 jam sehari untuk mengatasi kebocoran dan penyumbatan. Bahkan, untuk membersihkan tumpukan kalsium yang menyumbat pipa, Angkatan Laut AS harus merogoh kocek hingga USD 400.000 (sekitar Rp6,3 Miliar) untuk sekali proses acid flushing atau pembersihan dengan asam yang hanya bisa dilakukan saat kapal bersandar di pelabuhan.

​“Sistem ini benar-benar tertekan oleh penggunaan berat. Terkadang benda-benda seperti kaos hingga kepala pel (mop) dituding sebagai penyebab penyumbatan, namun pengamat menilai ini murni masalah kegagalan desain infrastruktur yang tidak memadai,” ungkap laporan yang dikutip dari Gulf News, Selasa (23/2/2026).

Moral Prajurit Tergerus di Tengah Ketegangan Global

​Krisis sanitasi ini terjadi di saat yang sangat krusial. USS Gerald R. Ford saat ini tengah berada dalam masa penugasan yang diperpanjang di tengah ketegangan tinggi di Timur Tengah, termasuk persiapan menghadapi potensi konfrontasi dengan Iran. Kelelahan kru akibat penugasan terlama dalam sejarah Angkatan Laut AS ini semakin diperparah dengan kondisi harian yang menyiksa akibat fasilitas dasar yang tidak berfungsi.

​Meskipun pejabat Angkatan Laut AS bersikeras bahwa masalah ini tidak mengganggu kesiapan operasional tempur kapal, para kritikus berpendapat sebaliknya. Bagaimana mungkin sebuah kapal induk dikatakan siap tempur 100 persen jika ribuan krunya mengalami demoralisasi akibat bau tidak sedap dan antrean panjang karena toilet yang tidak bisa digunakan.

​Laporan dari The Wall Street Journal juga mengonfirmasi bahwa rasa frustrasi dan kelelahan terus meningkat di kalangan pelaut. Tekanan psikologis akibat misi yang diperpanjang dua kali, ditambah dengan kegagalan sistem dasar di atas kapal, menjadi sinyal strategis bahwa kekuatan militer tidak hanya diukur dari daya hancur proyektil, tetapi juga dari keandalan logistik dan kesejahteraan personel.

Pelajaran bagi Kedaulatan Pertahanan Nasional

​Krisis yang menimpa USS Gerald R. Ford memberikan pelajaran berharga bagi banyak negara, termasuk Indonesia, dalam mengelola proyek strategis pertahanan. Investasi raksasa pada alutsista canggih sering kali melupakan aspek-aspek mendasar namun krusial. Anggaran yang mencapai ratusan triliun rupiah ternyata tidak menjamin bebas dari masalah “receh” yang bisa berakibat fatal pada kesiapan personel.

​Kegagalan ini juga memicu pertanyaan besar tentang pengawasan desain dan nilai manfaat bagi pembayar pajak. Bagaimana mungkin aset paling mahal dalam sejarah angkatan laut bisa memiliki kelemahan pada sistem pipa yang seharusnya sudah mapan? Ini menunjukkan bahwa integrasi sistem mutakhir ke dalam platform perang selalu membawa risiko teknis yang tidak terduga.

​Kini, di tengah kancah geopolitik yang memanas, USS Gerald R. Ford tetap berlayar dengan segala kemegahannya. Namun, di balik dinding bajanya yang kokoh dan reaktor nuklirnya yang perkasa, ribuan pelaut masih harus berjuang melawan krisis sanitasi yang mengancam ketahanan fisik dan mental mereka sebelum pertempuran yang sesungguhnya dimulai.

rakyatmenilai.com memandang bahwa kasus USS Gerald R. Ford adalah pengingat tajam bahwa secanggih apa pun teknologi sebuah negara, jika kebutuhan dasar manusiawi diabaikan, maka kekuatan tersebut hanyalah “macan kertas” di mata prajuritnya sendiri. Investasi militer senilai Rp205 Triliun yang harus terganggu oleh masalah toilet adalah sebuah ironi besar dalam dunia modern.

​Rakyat menilai, kedaulatan sebuah bangsa tidak hanya dibangun dari kemampuan rudal hipersonik atau pesawat siluman, tetapi juga dari kemandirian dan keandalan setiap detail infrastruktur pendukungnya. Jika Amerika Serikat saja bisa terjepit dalam krisis pipa di tengah ancaman perang, maka negara lain harus lebih teliti dalam memastikan bahwa setiap rupiah yang dikeluarkan untuk alutsista benar-benar memberikan jaminan keamanan, bukan sekadar beban pemeliharaan yang memalukan. {}