SEMARANG, RAKYATMENILAI.COM – Di bawah terik matahari Semarang, sebuah ‘arena’ perjuangan tengah digelar. Sebanyak 2.261 Calon Pekerja Migran Indonesia (CPMI), yang terseleksi dari 10.528 lebih pendaftar, kini tengah mengadu nasib dalam uji kemampuan atau skill test untuk program Government to Government (G to G) ke Korea Selatan, khususnya di sektor perikanan. Ini bukan sekadar ujian biasa, melainkan gerbang menuju mimpi ‘negeri ginseng’ yang kerap menjanjikan kemakmuran.
Ribuan peserta ini datang dari berbagai penjuru Nusantara, mewakili 25 provinsi—bahkan ada yang jauh-jauh dari Papua Tengah dan NTT—meski mayoritas adalah putra-putri terbaik dari Jawa. Mereka semua memiliki satu tujuan: meraih kuota ’emas’ dari 8.200 lowongan yang disediakan oleh Korea Selatan tahun ini. Sebuah pertarungan sengit yang menguji tidak hanya keterampilan, tetapi juga mental baja.
Melihat antusiasme yang membara ini, Wakil Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Christina Aryani, tak bisa menyembunyikan rasa bangganya. Sebagai kader Partai Golkar yang juga menjabat Ketua DPP Ormas MKGR dan Ketua DPP Partai Golkar, kehadirannya seolah menjadi penegasan bahwa negara, dan juga partai, selalu hadir membersamai perjuangan mereka.
“Kami mendorong mereka menyiapkan diri sebaik-baiknya, karena akan ada ujian interview langsung tim dari Korea dan tes-tes terkait pekerjaan yang akan mereka lakukan,” kata Christina usai memantau pelaksanaan skill test di Semarang, Sabtu (19/7/2025). Sebuah wejangan yang realistis, mengingat persaingan yang begitu ketat.
Tak hanya sekadar memantau, kandidat doktor ilmu hukum ini juga tak segan memberikan motivasi dan arahan langsung kepada para peserta. Ia meminta mereka tetap tenang dan percaya diri menghadapi setiap tahapan seleksi.
“Skill test ini menjadi salah satu faktor penentu kelulusan untuk bekerja di Korea Selatan. Jadi, jalani setiap sesi dengan tenang, sehingga dapat memikirkan jawaban yang bagus, tapi juga jangan terlalu lama mikirnya,” ujar Christina dengan nada yang sedikit satir namun sarat makna, mengingatkan akan pentingnya kecepatan dan ketepatan.
Lebih dari sekadar keterampilan, Wamen P2MI ini juga menitipkan pesan moral yang tak kalah penting: menjaga etika dan nama baik bangsa. “Jika nantinya lulus dan berhasil berangkat ke Korea Selatan, saya harap adik-adik dapat menjaga nama baik Indonesia,” tegasnya, memikul harapan besar di pundak para calon pahlawan devisa ini.
Christina menutup arahannya dengan pesan penyemangat yang menggugah jiwa. “Menjadi sukses butuh perjuangan. Namun, dengan persiapan yang matang, usaha yang tak kenal lelah, dan doa orangtua, segala mimpi bisa tercapai,” tambahnya, seolah menjamin bahwa perjuangan mereka tidak akan sia-sia jika dibarengi ikhtiar maksimal.
Skill test yang berlangsung selama tiga hari (18-20 Juli 2025) ini merupakan kolaborasi apik antara Kementerian P2MI dan Human Resources Development Service of Korea (HRDK). Selama periode tersebut, peserta mengikuti serangkaian tahapan ketat: wawancara, uji fisik, hingga keterampilan dasar (basic skill), yang semuanya diuji langsung oleh tim HRDK. Ini adalah komitmen KP2MI untuk memperkuat tata kelola pekerja migran yang bermartabat. Sebuah harapan besar digantungkan pada mereka, para ‘penakluk’ Korea dari berbagai pelosok negeri.







