Piala Dunia 2026 Jadi Turnamen Paling Kontroversial? Meistra Budiasa Beberkan Penyebabnya

Geopolitik3 Views

Piala Dunia 2026 dinilai menghadirkan wajah yang berbeda dibandingkan edisi-edisi sebelumnya. Selain diwarnai munculnya banyak negara debutan, turnamen sepak bola terbesar di dunia itu juga dibayangi berbagai persoalan politik, geopolitik, ekonomi, hingga sosial yang dinilai ikut memengaruhi atmosfer penyelenggaraan.

Pandangan tersebut disampaikan Pakar Komunikasi Olahraga, Meistra Budiasa, dalam podcast Ngopini bertajuk “Piala Dunia 2026 Kehilangan Magis? Timnas Gagal, Semangat Sepak Bola Nasional Ikut Turun” yang dipandu Bang Annama, Ajo Gilang, dan Mas Rezha.

Menurut Meistra, Piala Dunia 2026 merupakan salah satu edisi yang memiliki dinamika paling kompleks sepanjang sejarah penyelenggaraannya.

“Piala Dunia 2026 ini kalau saya lihat, Piala Dunia yang paling banyak drama dan dinamika. Misalnya banyak tim-tim kejutan yang lolos, seperti Curacao, Uzbekistan, Yordania, yang dalam sejarahnya ini baru pertama kali mereka lolos piala dunia. Itu drama kejutan. Dinamikanya juga banyak, ada banyak aturan baru, pengundian, dan lainnya,” ujarnya.

Namun, Meistra menilai dinamika tersebut tidak hanya terjadi di dalam lapangan. Berbagai persoalan politik internasional juga ikut memberi warna terhadap penyelenggaraan turnamen yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.

“Itu di olahraganya, ada juga faktor politiknya. Salah satunya konflik Iran Vs AS, ini mempengaruhi bagaimana konstelasi olahraganya. Ditambah geopolitik yang berdampak ke ekonomi, harga tiket pesawat, akomodasi naik segala macam, berdampak ke okupansi hotel yang sepi,” katanya.

Ia juga menyoroti sejumlah persoalan yang dihadapi masing-masing negara tuan rumah. Menurutnya, faktor-faktor tersebut turut membentuk persepsi publik terhadap Piala Dunia 2026.

“Sebelum kejadian geopolitik, Amerika juga bermasalah dengan persoalan imigrasi, bahkan orang-orang yang mau datang ke Amerika, suporter-suporternya takut. Di Meksiko apalagi, di sana ada kartel narkoba. Terakhir, Kanada walaupun tidak ada gonjang-ganjing tapi sebelumnya sama Amerika sempat bermasalah dengan Amerika dengan perang dagang. Kota yang digunakan untuk tuan rumah ada Toronto dan Vancouver, di kota itu terjadi perdebatan soal alokasi anggaran untuk Piala Dunia,” jelasnya.

Bagi Meistra, kondisi tersebut menunjukkan bahwa penyelenggaraan Piala Dunia saat ini tidak lagi hanya berbicara mengenai sepak bola, tetapi juga dipengaruhi berbagai isu global yang berkembang di sekitarnya.

“Jadi artinya secara keseluruhan, Piala Dunia sekarang itu sangat seru karena banyak ceritanya dan dramanya. Jadi bagi saya, ini salah satu bentuk nyata bahwa Piala Dunia itu nggak lepas dari isu-isu di sekitarnya, sosial, politik, ekonomi, kita nggak bisa lepas dari itu,” tegasnya.

Dalam kesempatan yang sama, host Ngopini, Bang Annama, menilai euforia Piala Dunia 2026 juga terasa lebih redup dibandingkan edisi-edisi sebelumnya. Menurutnya, berkurangnya daya tarik turnamen tidak hanya dipengaruhi faktor olahraga, tetapi juga perubahan suasana yang selama ini menjadi ciri khas pesta sepak bola dunia.

“Kalau kita lihat dari soundtracknya saja, dulu Piala Dunia di Afrika Selatan lagu Shakira luar biasa, sebelumnya juga ada lagunya Ricky Martin untuk theme song Piala Dunia. Kalau sekarang, kita nggak paham siapa yang nyanyi. Jadi kenapa ya? Kurang hypes gitu, kurang dapat kita vibes Piala Dunia sekarang,” ujarnya.

Ia juga menyinggung bertambahnya jumlah peserta hingga berbagai kontroversi yang mengiringi proses kualifikasi, termasuk isu geopolitik yang dinilai turut memengaruhi persepsi publik terhadap turnamen.

“Apalagi dengan ditambahnya makin banyak negara yang lolos. Ini hampir setengah negara dunia lolos ini, bahkan dari Eropa saja ada yang dari jalur Europa League, ada yang dari jalur penyisihannya, termasuk persoalan geopolitik juga, Rusia tidak diikutsertakan, padahal Israel tetap ikut penyisihan. Jadi memang toxic Piala Dunia kali ini. Dan Trump juga bilang, kalau mau nonton Piala Dunia di Amerika silahkan saja datang, tapi tidak kita jamin keamanannya,” katanya.

Bang Annama menambahkan, di Indonesia atmosfer Piala Dunia 2026 juga dinilai tidak semeriah tahun-tahun sebelumnya. Ia menilai budaya menikmati Piala Dunia yang dulu begitu kuat kini mulai memudar.

“Piala Dunia 2026 tidak hanya anyep di dunia, di Indonesia sendiri sepi euforia. Kalau jaman-jaman dulu, kita masih ada yang bikin kartu pemain-pemain, koleksi stiker, kemudian juga di TV aktif untuk membedah line up pemain sama strategi tiap negara,” tuturnya.

Ia juga menyoroti perubahan platform penyiaran yang menurutnya berpotensi memengaruhi jangkauan dan antusiasme masyarakat terhadap ajang empat tahunan tersebut.

“Dulu juga kan TV swasta yang menayangkan, jadi mungkin kualitas tayangannya di atas 4K, jernih, jelas. Kalau sekarang kan TV pemerintah yang menayangkan, yang mendapatkan hak siar. Kita belum tahu, belum pernah kalau event sebesar Piala Dunia ditayangkan TV pemerintah yang secara rating saja tidak pernah menang lawan TV swasta,” pungkasnya. {radaraktual}