Rapat di Pinggir Kali hingga Angkut SUTET Pakai Heli: Gaya ‘Leadership’ Lapangan Bahlil Lahadalia di Titik Nol Bencana

Menteri ESDM: Keputusan Strategis Tak Bisa Hanya di Atas Meja, Pemimpin Harus Merasakan Penderitaan Rakyat di Tenda Pengungsian

Menteri66 Views

JAKARTA, rakyatmenilai.com – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menunjukkan standar baru dalam kepemimpinan krisis. Alih-alih menunggu laporan di balik meja nyaman di Jakarta, Bahlil memilih turun langsung ke lokasi bencana di Aceh dan Sumatera Utara untuk memimpin pemulihan infrastruktur energi yang lumpuh total.

​Pengalaman ekstrem ini diceritakan Bahlil sebagai bentuk tanggung jawab moral. Ia mengaku seringkali harus mengambil keputusan krusial di lokasi yang sangat tidak biasa, mulai dari dalam tenda pengungsian yang sempit hingga di pinggir kali yang terdampak luapan banjir.

​“Saya melakukan rapat itu di pinggir kali, di tenda-tenda itu kita memutuskan cepat. Menurut saya leadership itu justru diuji ketika di lapangan. Enggak boleh enggak, harus turun,” tegas Bahlil sebagaimana dikutip dari WartaEkonomi, Selasa (30/12/2025).

Terobosan Logistik: Helikopter Jadi Ujung Tombak

​Langkah Bahlil turun ke lapangan bukan sekadar simbolis. Di Bireuen, ia menyaksikan sendiri bagaimana sungai yang semula lebarnya 150 meter meluap hingga 1 kilometer dan menghanyutkan 10 tower listrik. Medan yang mustahil ditembus lewat jalur darat memaksa Bahlil mengambil keputusan radikal: mengangkut material tower SUTET menggunakan helikopter.

​Setiap hari, lima helikopter dikerahkan secara nonstop untuk mengangkut 35 ton material. Strategi ini diambil meski tim harus berkejaran dengan keterbatasan stok avtur di lokasi bencana. Keputusan cepat ini diambil karena Bahlil menyadari bahwa data laporan seringkali memiliki selisih (diskrepansi) dengan realitas lapangan yang jauh lebih pelik.

Ikatan Emosional: Bahlil Pernah Jadi Korban Bencana 1988

​Di balik ketegasan instruksinya, Ketua Umum DPP Partai Golkar ini ternyata memiliki alasan personal yang mendalam. Bahlil mengungkapkan bahwa dirinya pernah menjadi korban letusan gunung berapi pada tahun 1988 silam. Memori masa kecil itulah yang membuatnya sangat sensitif terhadap penderitaan para pengungsi.

​“Saya pernah menjadi seorang anak yang kena bencana. Jadi pernah merasakan ibu enggak ketemu anaknya, ayah kehilangan keluarganya. Saya melakukan ini betul-betul atas dasar hati yang dalam karena pernah menjadi korban,” ungkap Bahlil dengan nada emosional.

Solusi Instan: 1.000 Genset dan 3.000 Kompor Gas

​Melihat tenda-tenda pengungsian yang gelap gulita, Bahlil langsung memerintahkan distribusi 1.000 unit genset dan 3.000 kompor gas sebagai solusi darurat sebelum jaringan listrik permanen berhasil dipulihkan.

​Hingga saat ini, Bahlil mengakui pemulihan di Aceh belum mencapai 100 persen karena masih ada 220 desa yang terisolasi akibat akses jalan yang putus. Namun, ia memastikan tim ESDM dan PLN bekerja totalitas 24 jam di lapangan.

​“Kalau enggak di lapangan, kita enggak bisa tahu kebutuhan rakyat. Kita sudah kirim genset untuk menangani saudara-saudara kita. Kami minta masyarakat memaklumi karena pemulihan energi sangat bergantung pada perbaikan infrastruktur jalan yang sedang berproses,” pungkasnya. {}