Jakarta, rakyatmenilai.com – Anggota Komisi VIII DPR RI Atalia Praratya mengapresiasi berbagai peningkatan layanan yang diterima jemaah haji Indonesia selama berada di Madinah. Namun di balik apresiasi itu, ia menyoroti masih adanya keluhan dari sebagian jemaah terkait akomodasi yang belum merata.
Dalam kunjungan pengawasan Tim Pengawas (Timwas) Haji DPR RI, Atalia menemukan sejumlah hotel yang memberikan pelayanan sangat baik kepada jemaah Indonesia. Bahkan, beberapa di antaranya dinilai memiliki standar setara hotel bintang lima.
“Pada saat kami datang ke Madinah, kami melihat ada beberapa hotel yang memberikan fasilitas sangat baik. Kalau tidak salah sekitar delapan hotel, dan jemaah kita bisa mendapatkan pelayanan setara hotel bintang lima,” ungkap legislator asal Daerah Pemilihan Jawa Barat I itu.
Kendati demikian, Atalia mengakui bahwa kualitas akomodasi yang diterima jemaah belum sepenuhnya merata. Sebagian jemaah masih menempati hotel yang lokasinya relatif jauh dari pusat aktivitas ibadah, sementara yang lain mendapatkan fasilitas yang lebih baik.
“Memang ada yang mendapatkan akomodasi sangat baik, ada juga yang lokasinya lebih jauh. Karena itu evaluasi harus terus dilakukan agar pelayanan bisa semakin merata,” ujar politisi Fraksi Partai Golkar tersebut.
Menurut Atalia, secara umum kondisi di Madinah memang lebih nyaman dibandingkan Makkah. Namun, kondisi fisik jemaah yang mulai menurun setelah puncak ibadah haji menjadi tantangan tersendiri.
“Sebetulnya secara umum kondisi Madinah itu lebih nyaman daripada Makkah. Tetapi biasanya setelah puncak haji, jemaah mengalami penurunan kondisi fisik, kesehatan, bahkan mental karena mereka sudah melewati fase utama ibadah dan ingin segera pulang ke Tanah Air,” tegasnya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (10/6/2026).
Sebagaimana dikutip TIMES Indonesia dari laman DPR RI, Atalia menjelaskan bahwa pemerintah telah mengatur jadwal kepulangan secara bertahap agar seluruh proses dapat berjalan tertib. Karena itu, jemaah diharapkan memanfaatkan waktu yang masih tersedia di Madinah untuk memperbanyak ibadah.
“Saya berharap momen berada di Madinah dapat dimaksimalkan untuk beribadah di Masjid Nabawi. Suasananya lebih nyaman dan tidak terlalu panas dibandingkan Makkah, sehingga menjadi kesempatan yang baik bagi jemaah,” kata anggota Timwas Haji DPR RI 2026 ini.
Ketimpangan akomodasi ini menjadi catatan khusus bagi Atalia. Menurutnya, kenyamanan tempat menginap di Madinah menjadi sangat krusial karena kondisi fisik jemaah umumnya sudah menurun usai menjalani rangkaian ibadah padat di Makkah.
Ia mengaku telah mendengar langsung komitmen pemerintah melalui Kementerian Haji dan Umrah untuk melakukan pembenahan terhadap berbagai aspek layanan, termasuk persoalan akomodasi dan hotel yang dinilai kurang layak.
“Saya mendengar sendiri bahwa pemerintah akan terus melakukan evaluasi terkait seluruh layanan, termasuk akomodasi yang jauh maupun yang dinilai belum layak. Ini penting agar penyelenggaraan haji ke depan semakin baik,” tambahnya.
Atalia menegaskan bahwa evaluasi terhadap akomodasi harus terus dilakukan agar pelayanan semakin merata. Ia juga menekankan pentingnya pembenahan pada hotel-hotel yang dinilai kurang layak bagi kenyamanan jemaah.
Ia berharap hasil evaluasi menyeluruh terhadap layanan transportasi, akomodasi, kesehatan, hingga proses pemulangan jemaah dapat menjadi landasan perbaikan di tahun-tahun mendatang.
“Tentu kita akan terus kawal agar evaluasi ini benar-benar berdampak pada peningkatan kualitas pelayanan kepada jemaah haji Indonesia,” tegasnya.
Dengan begitu, kualitas pelayanan kepada jemaah Indonesia terus meningkat dari musim ke musim. Pemerintah pun diharapkan tidak hanya fokus pada kuantitas hotel, tetapi juga pada pemerataan kualitas dan lokasi yang strategis.
rakyatmenilai.com
Referensi Utama Analisis Kebijakan Dan Geopolitik







