Christiany Paruntu: Perampingan Anak Usaha BUMN Langkah Strategis, Tapi Tantangan Pasca-Merger Jangan Diabaikan

Parlemen8 Views

Jakarta, Anggota Komisi VI DPR RI Christiany Eugenia Paruntu menilai langkah pemerintah bersama Danantara dalam melakukan perampingan dan konsolidasi anak usaha Badan Usaha Milik Negara (BUMN) merupakan kebijakan strategis yang perlu didukung. Menurutnya, langkah ini penting untuk memperkuat daya saing perusahaan nasional di tengah persaingan global yang semakin ketat.

Sebagaimana diberitakan Golkar2029.com, dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Sabtu (6/6/2026), Christiany menyatakan bahwa penyederhanaan struktur korporasi menjadi bagian penting dari transformasi BUMN. Transformasi ini diperlukan agar BUMN lebih adaptif menghadapi tantangan bisnis dan mampu menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi negara.

Selama ini, banyak BUMN memiliki struktur grup usaha yang sangat kompleks dengan jumlah anak perusahaan yang besar. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan tumpang tindih fungsi antar entitas, meningkatkan biaya operasional yang tidak perlu, serta mengurangi efektivitas pengambilan keputusan bisnis.

Oleh karena itu, Christiany menilai langkah konsolidasi yang telah dilakukan pada sejumlah BUMN besar patut diapresiasi. Konsolidasi tersebut mencakup sektor perkebunan, semen, dan kepelabuhanan sebagai upaya membangun organisasi yang lebih ramping, sehat, dan produktif.

Ia pun sependapat dengan pandangan para pengamat bahwa pengurangan jumlah entitas usaha dapat memberikan dampak positif terhadap efisiensi biaya. Selain itu, optimalisasi kinerja perusahaan juga menjadi target utama dari kebijakan perampingan ini.

Meski demikian, Christiany menegaskan bahwa tantangan sesungguhnya tidak berhenti pada proses merger atau penggabungan perusahaan. Ada tahapan yang jauh lebih krusial setelah proses merger selesai dilakukan.

“Tahap yang jauh lebih penting adalah memastikan integrasi pasca-merger berjalan efektif, mulai dari harmonisasi budaya kerja, penyelarasan proses bisnis, penguatan tata kelola perusahaan, hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia,” ujar Christiany.

Menurut dia, keberhasilan restrukturisasi tidak hanya diukur dari berkurangnya jumlah anak usaha. Indikator keberhasilan yang sesungguhnya adalah peningkatan produktivitas, profitabilitas, serta kemampuan perusahaan dalam menciptakan nilai ekonomi yang berkelanjutan.

Jika integrasi pasca-merger tidak berjalan baik, perampingan hanya akan menjadi formalitas tanpa dampak nyata. Bahkan bisa menimbulkan gejolak internal, seperti benturan budaya kerja dan resistensi dari karyawan.

Untuk itu, Christiany memastikan DPR RI membuka ruang seluas-luasnya bagi seluruh pemangku kepentingan. Mulai dari entitas BUMN, serikat pekerja, pelaku usaha, akademisi, hingga masyarakat, semuanya dipersilakan menyampaikan masukan.

Ia menekankan bahwa setiap masukan yang konstruktif perlu menjadi bahan pertimbangan dalam penyempurnaan kebijakan. Tujuannya agar transformasi BUMN dapat berjalan secara inklusif, transparan, dan memberikan manfaat optimal bagi seluruh pihak yang terdampak.

Publik dan pelaku pasar kini menanti hasil nyata dari kebijakan perampingan ini. Apakah efisiensi benar-benar tercapai atau justru muncul masalah baru di tingkat implementasi. Christiany Paruntu telah memberikan catatan penting: keberhasilan merger bukan di atas kertas, tetapi di lapangan pasca-integrasi.

rakyatmenilai.com
Referensi Utama Analisis Kebijakan Dan Geopolitik