TEHERAN – Eskalasi militer di Timur Tengah memasuki babak baru yang sangat menguras energi dan biaya. Melalui Operasi “Truthful Promise-4”, Iran melancarkan serangan balasan masif terhadap Amerika Serikat dan Israel dengan strategi yang sangat terhitung. Data terbaru dari analis militer Tiongkok, china3army, menunjukkan sebuah pola serangan yang dirancang bukan hanya untuk menghancurkan target fisik, tetapi juga untuk melumpuhkan ekonomi pertahanan lawan melalui perang atrisi biaya.
Selama empat hari pertama operasi yang dimulai pada akhir Februari 2026, Iran mendemonstrasikan model serangan “kombinasi saturasi”. Strategi ini menggunakan drone murah dalam jumlah masif untuk memaksa sistem pertahanan udara lawan menguras rudal pencegat mereka yang harganya berkali-kali lipat lebih mahal. Akibatnya, Amerika Serikat dan Israel kini terjebak dalam dilema finansial: mempertahankan wilayah dengan biaya yang bisa membangkrutkan cadangan amunisi mereka.
Analis Tiongkok mencatat transisi taktik Iran dari serangan balistik murni menuju penggunaan UAV (pesawat tanpa awak) yang stabil. Hal ini membuktikan bahwa Iran lebih mementingkan keberlanjutan tekanan militer jangka panjang daripada sekadar serangan satu kali yang bersifat pamer kekuatan.
Kronologi 4 Hari Gempuran: Dari Overload ke Rasionalisasi
Operasi dimulai pada 28 Februari dengan intensitas tertinggi sebanyak 910 peluncuran, di mana 38,5% di antaranya adalah rudal balistik guna membebani (overload) sistem pertahanan udara lawan dalam sekejap. Namun, memasuki hari kedua dan ketiga, Iran mulai menurunkan intensitas peluncuran menjadi 683 dan 475 unit, sembari secara tajam mengurangi porsi rudal balistik ke angka sekitar 25%.
Pada hari keempat, intensitas menurun kembali menjadi 352 peluncuran dengan porsi balistik hanya 14,2%. Penurunan ini bukan indikasi kelemahan, melainkan transisi menuju penggunaan sumber daya yang lebih rasional. Drone tetap menjadi alat penghancur utama yang dikirim secara konstan untuk menjaga tekanan psikologis dan operasional terhadap pusat-pusat kota serta infrastruktur energi lawan.
Total dalam empat hari, Iran telah melepaskan 695 rudal balistik, 25 rudal penjelajah, dan 1.700 drone tipe “Shahed”. Pola ini menegaskan model perang Iran yang baru: lebih sedikit rudal mahal, lebih banyak drone murah.
Jenis Senjata | Total Unit | Biaya Serangan (Total) | Biaya Intersepsi (Per Unit) | Rasio Serangan vs Pertahanan |
|---|---|---|---|---|
Rudal Balistik | 695 | $695 Juta – $1,39 Miliar | $3,7 Juta (PAC-3) | 1 : 2–4 |
Rudal Penjelajah | 25 | $12,5 Juta – $25 Juta | $1–3 Juta (PAC-3) | 1 : 2–3 |
Drone Shahed | 1.700 | $34 Juta – $85 Juta | $1–4 Juta (Aviation/PAC-3) | 1 : 20–80 |
Aritmatika Perang: Rasio Biaya Serangan vs Pertahanan
Aspek paling menarik dari data china3army adalah perbandingan biaya antara serangan Iran dan upaya intersepsi AS-Israel. Untuk rudal balistik, Iran menghabiskan biaya sekitar $1–2 juta per unit, sementara satu pencegat PAC-3 milik AS dihargai sekitar $3,7 juta per unit. Artinya, biaya pertahanan bisa mencapai 2 hingga 4 kali lipat lebih mahal dari biaya serangan rudal balistik.
Ketimpangan biaya paling gila terjadi pada sektor UAV. Satu unit drone “Shahed” milik Iran diperkirakan hanya berbiaya antara $20–50 ribu. Namun, untuk menjatuhkannya menggunakan rudal PAC-3 atau bantuan penerbangan tempur, Barat harus merogoh kocek antara $1–4 juta per unit drone. Rasio biayanya mencapai 1 banding 80.







