BRITISH COLUMBIA – Dunia internasional dikejutkan oleh aksi penembakan brutal yang terjadi di SMA Tumbler Ridge, Provinsi British Columbia, Kanada. Insiden mematikan yang terjadi pada Selasa (10/2/2026) waktu setempat ini menelan sedikitnya 10 korban jiwa, termasuk pelaku yang ditemukan tewas di lokasi kejadian, serta melukai puluhan siswa lainnya dalam sebuah tragedi yang dianggap sebagai salah satu yang terburuk dalam sejarah Kanada.
Aksi penembakan ini bermula saat pihak berwenang menerima laporan adanya penembak aktif sekitar pukul 13.20 siang. Polisi segera memasuki gedung sekolah untuk melokalisasi ancaman dan menemukan pemandangan mengerikan di dalam ruang-ruang kelas. Selain korban di sekolah, pihak kepolisian juga menemukan dua orang tewas di sebuah rumah terdekat yang diyakini memiliki keterkaitan erat dengan insiden penembakan massal tersebut.
Pihak Royal Canadian Mounted Police (RCMP) menyatakan bahwa pelaku ditemukan tewas dengan luka yang diduga akibat tembakan yang dilakukan sendiri. Sebuah fakta yang mengejutkan muncul dalam laporan media lokal yang menyebutkan bahwa pelaku adalah seorang perempuan, sebuah fenomena yang sangat jarang terjadi mengingat mayoritas penembakan massal di Amerika Utara biasanya dilakukan oleh laki-laki.
Respons Cepat Pemerintah dan Kondisi Korban di Lapangan
Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, segera membatalkan seluruh agenda perjalanannya ke Halifax dan Jerman untuk memberikan dukungan langsung bagi keluarga korban. Ia menyatakan rasa duka yang mendalam atas tragedi yang ia sebut sebagai “penembakan mengerikan” yang merobek rasa aman masyarakat di Tumbler Ridge, sebuah kota kecil yang selama ini dikenal tenang dan damai.
Berdasarkan laporan di lapangan, enam orang tewas seketika di gedung sekolah, sementara korban ketujuh menghembuskan napas terakhirnya saat dalam perjalanan menuju rumah sakit. Lebih dari 25 orang dilaporkan mengalami luka-luka, di mana beberapa di antaranya berada dalam kondisi kritis dan harus dievakuasi menggunakan ambulans udara ke pusat medis terdekat untuk mendapatkan penanganan darurat.
Sebagaimana dilansir dari laporan Deutsche Welle (DW), Premier British Columbia David Eby mengapresiasi keberanian petugas kepolisian yang berhasil mencapai lokasi sekolah hanya dalam waktu dua menit setelah laporan masuk. Kecepatan respons ini diyakini telah mencegah jumlah korban yang lebih besar, mengingat sekolah tersebut hanya menampung sekitar 150 hingga 160 siswa.
Runtuhnya Rasa Aman di Kota Terpencil Tumbler Ridge
Tumbler Ridge sendiri merupakan sebuah kota terpencil yang berjarak lebih dari 1.000 kilometer di utara Vancouver dengan populasi hanya sekitar 2.400 jiwa. Mayor Tumbler Ridge, Darryl Krakowka, menggambarkan masyarakatnya sebagai “satu keluarga besar” yang kini tengah dirundung kesedihan mendalam karena mayoritas penduduk saling mengenal satu sama lain, termasuk para korban.
Tragedi ini menjadi pukulan telak bagi warga setempat yang selama ini merasa jauh dari hiruk-pikuk kekerasan senjata yang sering terjadi di kota-kota besar Amerika Serikat. Seorang jurnalis lokal mengungkapkan bahwa penembakan sekolah sebelumnya tidak pernah dianggap sebagai sebuah kemungkinan yang bisa terjadi di lingkungan mereka yang sangat aman dan kekeluargaan.
Selama ini, masalah disiplin siswa di sekolah tersebut biasanya hanya berkisar pada teguran kepala sekolah untuk pelanggaran ringan. Namun, dengan terjadinya penembakan yang menewaskan banyak nyawa ini, rasa aman yang telah terjaga selama puluhan tahun di kaki pegunungan Rocky tersebut kini hancur berkeping-keping dan meninggalkan trauma mendalam bagi seluruh warga.
Catatan Kelam Sejarah Penembakan Massal di Kanada
Insiden di Tumbler Ridge ini kini tercatat sebagai penembakan sekolah paling mematikan kedua dalam sejarah nasional Kanada. Fakta ini sangat memprihatinkan bagi negara yang selama ini dikenal memiliki aturan kepemilikan senjata yang jauh lebih ketat dibandingkan negara tetangganya, Amerika Serikat, sehingga kejadian seperti ini tergolong sangat langka.
Kementerian Keamanan dan pihak kepolisian masih terus menyelidiki motif di balik aksi brutal ini, termasuk jenis senjata yang digunakan oleh pelaku. Meski ancaman dianggap telah berakhir, polisi tetap menyiagakan sumber daya tambahan di sekitar komunitas untuk menjamin keselamatan warga selama proses penyelidikan berlangsung di tempat kejadian perkara.
Dunia kini menyoroti bagaimana Kanada akan merespons tragedi ini, terutama dalam hal penguatan kebijakan keamanan di institusi pendidikan. Rakyat menilai, kejadian ini merupakan pengingat pahit bahwa ancaman kekerasan bisa muncul di mana saja, bahkan di lokasi yang dianggap paling aman sekalipun, dan membutuhkan komitmen global untuk memutus rantai kekerasan bersenjata.







