Jakarta, Selama ini banyak orang mengira bahwa angkringan, wedangan, atau hik lahir dari budaya Solo atau Yogyakarta. Faktanya, kuliner rakyat yang akrab dengan suasana santai dan harga merakyat itu ternyata memiliki akar sejarah yang berbeda.
Desa Ngerangan di Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, adalah tempat di mana cikal bakal angkringan pertama kali muncul. Dari desa inilah tradisi berjualan dengan gerobak dorong yang khas itu mulai merambat ke kota-kota besar.
Tokoh di balik lahirnya angkringan adalah Karso Djukut, atau yang akrab disapa Mbah Djukut. Ia adalah warga Ngerangan yang merantau ke Solo sekitar tahun 1930-an untuk mencari kehidupan yang lebih layak.
Kondisi desa yang gersang dan hanya mengandalkan sawah tadah hujan menjadi pendorong utama warga Ngerangan, termasuk Mbah Djukut, untuk merantau. Sawah tadah hujan adalah lahan yang tidak bisa dialiri secara teratur sehingga sangat bergantung pada curah hujan.
Gunadi atau yang akrab disapa Gugun, penggagas Desa Cikal Bakal Angkringan Ngerangan, menjelaskan bahwa tekanan ekonomi di desa menjadi akar utama perantauan massal warga Ngerangan ke berbagai kota.
Sebagaimana diberitakan KOMPAS.com, Gugun menyatakan, “Rata-rata masyarakat pergi ke kota,” saat ditemui di Museum Angkringan Ngerangan, Sabtu (30/5/2026).
Mbah Djukut termasuk salah satu warga yang merasakan kerasnya kehidupan di desa. Setelah ayahnya meninggal dunia, ia yang saat itu baru berusia 15 tahun memutuskan untuk mencari penghidupan yang layak demi membantu perekonomian keluarga.
Dengan bekal seadanya, anak pertama dari lima bersaudara itu berjalan kaki menuju Laweyan, Solo. Perjalanan panjang yang melelahkan itu menjadi titik balik hidupnya.
Setibanya di kawasan Kerten, Solo, ia sempat kebingungan karena mendengar suara “der-deran” atau suara peperangan yang saat itu masih terjadi pada masa penjajahan. Ia pun berdiam diri di bawah pohon hingga akhirnya ditemui seorang warga bernama Mbah Wono.
Kepada Mbah Wono, Mbah Djukut menceritakan kondisi yang dialaminya. Mbah Wono kemudian mengajaknya tinggal di rumahnya dan memberinya kesempatan untuk memulai hidup baru di tanah perantauan.
Awalnya, Mbah Djukut membantu merawat kerbau dan bertani. Namun karena dikenal rajin, tekun, dan jujur, ia akhirnya menjadi orang kepercayaan Mbah Wono.
Dari kedekatan itulah, Mbah Djukut mulai berjualan terikan atau wedangan dengan menggunakan gerobak sederhana. Gaya berjualan inilah yang kemudian berkembang menjadi apa yang sekarang kita kenal sebagai angkringan.
Kini, jejak sejarah itu diabadikan melalui Museum Angkringan Ngerangan yang berada di Desa Ngerangan. Museum ini menjadi bukti bahwa angkringan bukan sekadar tempat nongkrong murah, tetapi juga warisan budaya yang lahir dari perjuangan dan kegigihan warga desa.
Fakta ini sekaligus meluruskan narasi yang selama ini keliru. Angkringan tidak lahir dari kota, melainkan dari desa yang warganya merantau untuk bertahan hidup. Kota Solo dan Jogja hanyalah tempat persinggahan, sementara akar sejatinya ada di Klaten.
rakyatmenilai.com
Referensi Utama Analisis Kebijakan Dan Geopolitik







