Penurunan prestasi atlet Indonesia tidak bisa dipandang semata-mata sebagai persoalan kualitas pembinaan di lapangan. Pakar komunikasi olahraga, Meistra Budiasa, menilai terdapat kompleksitas baru yang turut memengaruhi performa atlet, terutama berkembangnya media sosial yang membawa dampak besar terhadap kondisi psikologis mereka.
Pandangan tersebut disampaikan Meistra Budiasa dalam podcast Ngopini bertajuk “Krisis Prestasi Nasional! Siapa Bunuh Mental Juara Atlet Indonesia?” yang dipandu oleh Bang Annama, Ajo Gilang, dan Mas Rezha.
Menurut Meistra, selama ini sistem pemusatan latihan dan pembinaan olahraga sebenarnya telah mengalami banyak kemajuan. Namun, perkembangan teknologi informasi dan media sosial menghadirkan tantangan baru yang belum tentu diantisipasi dalam pola pembinaan atlet.
“Kalau saya melihatnya ini ada sebuah kompleksitas baru dalam pembinaan olahraga kita. Kalau dari kacamata komunikasi, saya melihatnya pemusatan pelatihan, pembinaan walaupun sudah berjalan sangat efektif, programnya sudah bagus, ada unsur lain, ada variabel lain ini bisa jadi penopang juga bagi para atlet, yaitu berkembangnya media, terutama media sosial,” ujarnya.
Meistra mengungkapkan, pandangan tersebut tidak hanya berdasarkan pengamatan pribadi, tetapi juga hasil riset yang pernah ia lakukan bersama Prof. Thomas dari Jerman mengenai Olimpiade. Dalam penelitian tersebut, ia mewawancarai sejumlah atlet dari berbagai negara, termasuk atlet Indonesia yang tampil di Olimpiade.
Hasilnya menunjukkan bahwa sorotan media menjadi salah satu faktor yang memotivasi atlet untuk tampil maksimal.
“Saya pernah melakukan riset, kebetulan ada publikasinya tentang Olympic, bekerjasama dengan Prof. Thomas dari Jerman, lalu kita mewawancarai atlet dari berbagai macam negara, saya sempat wawancarai atlet Indonesia yang ikut Olimpiade, dari mereka itu ketika ditanya tentang apa yang membuat anda termotivasi terhadap olahraga Olimpiade, rata-rata jawabannya sama. karena mereka melihat vibesnya media itu begitu besar dalam menyorot mereka, dan itu membawa mereka makin semangat,” katanya.
Meski demikian, Meistra menilai temuan tersebut sekaligus menjadi peringatan. Menurutnya, euforia popularitas dapat berubah menjadi tekanan psikologis yang mempengaruhi fokus atlet dalam mengejar prestasi.
“Jawaban itu oke, tapi di satu sisi ini jadi alarm, karena kan itu jadi euforia. Anda bayangkan, ada sorotan media begitu besar, kalau sukses iklan masuk, belum ada influencer, dan segala macam. Unsur itu kan secara tidak langsung, jangan-jangan itu mempengaruhi psikologis para atlet,” jelasnya.
Ia mengatakan, ketika seorang atlet mulai meraih prestasi dan popularitas, muncul berbagai konsekuensi baru yang harus dihadapi, mulai dari ekspektasi publik hingga persoalan kesejahteraan.
“Makanya terjadi kompleksitas, karena kompleksitasnya kemana-mana kalau atlet sudah berprestasi, dia pasti berpikir kesejahteraannya segala macam. Di satu sisi atlet memang butuh prestasi, tapi di satu sisi ada beban psikologis karena sorotan media itu tadi,” lanjutnya.
Selain faktor psikologis, Meistra juga menyoroti perlunya evaluasi terhadap sistem pembinaan, termasuk fenomena perpindahan sejumlah pelatih dan mantan official Indonesia ke luar negeri. Menurutnya, kondisi tersebut patut menjadi perhatian karena dapat berdampak terhadap kualitas regenerasi atlet nasional.
“Dalam konteks unsur pembinaan, apakah program atau strategi pelatihan sekarang ini masih sama seperti dulu atau ada perubahan karena kan juga banyak mantan official melatih klub besar badminton pindah ke luar negeri. Apakah karena itu juga prestasi atlet kita menurun? Harus ada solusi, bagaimana mengikat official atau pelatih agar bisa stay di sini, tentu dengan jaminan kesejahteraan yang memadai,” ungkapnya.
Meistra juga menekankan pentingnya regenerasi atlet yang berkelanjutan. Menurutnya, Indonesia tidak boleh hanya bergantung pada satu atau dua atlet unggulan, melainkan harus terus menyiapkan pemain lapis kedua, ketiga, dan seterusnya agar memiliki pengalaman bertanding di level internasional.
“Faktor lainnya adalah regenerasi, kita harus berani memunculkan pemain lapis kedua, lapis ketiga, dan lapis-lapis lainnya untuk berkompetisi di ajang-ajang terkemuka,” katanya.
Di sisi lain, ia menilai aspek psikologis atlet harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sistem pembinaan nasional. Pendampingan mental, menurutnya, menjadi kebutuhan mendesak di tengah derasnya arus popularitas yang dibawa media sosial.
“Tapi unsur di luar pembinaan juga penting, perlu menjadi perhatian dari pelatihan, psikologis atlet perlu diperhatikan secara serius. Bagaimana mengelola popularitas itu, itu kan domain psikologi yang bisa mengerem hasrat para atlet ini ketika populer lantas lupa tujuan, jadi perlu diperkuat mental post popularitas ini yang perlu dijaga. Terpaan popularitas ini cukup kuat sekarang ini,” pungkasnya. {radaraktual}







