KEMENTERIAN Perindustrian (Kemenperin) mengupayakan pelestarian batik autentik sebagai langkah menjaga keberlangsungan industri kecil menengah (IKM), serta perajin batik di tengah maraknya produk tekstil bermotif batik yang beredar di pasar.
Dalam pernyataan dikonfirmasi di Jakarta, Selasa (14/7/2026), Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan, perkembangan industri batik terus menunjukkan tren positif, seiring meningkatnya minat masyarakat khususnya generasi muda terhadap fesyen berbasis wastra Nusantara.
“Saat ini industri batik terus menunjukkan tren positif, baik di pasar domestik maupun internasional. Ekspornya meningkat dan generasi muda semakin bangga menggunakan batik yang mencerminkan identitas budaya bangsa,” ungkap dia.
Namun, Menperin Agus menilai perkembangan tersebut juga diiringi tantangan berupa meningkatnya peredaran kain printing bermotif batik yang diproduksi secara massal dengan harga lebih murah.
“Produk tersebut umumnya dipasarkan dengan harga yang jauh lebih murah dan dapat diproduksi secara massal dalam waktu singkat, sehingga berpotensi menggeser posisi batik asli, baik dari sisi pasar maupun apresiasi masyarakat terhadap nilai budaya yang dikandungnya,” kata dia, dikutip dari Antaranews.
Menurutnya, kondisi tersebut perlu diimbangi dengan peningkatan pemahaman masyarakat mengenai perbedaan antara batik asli dengan kain bermotif batik.
Ia menyampaikan pula, hal ini penting agar konsumen dapat memilih produk batik yang autentik sekaligus memberikan penghargaan terhadap proses kreatif dan keterampilan para perajin.
“Batik asli umumnya memiliki aroma khas malam, garis motif yang tidak selalu presisi karena dikerjakan secara manual, serta harga yang mencerminkan waktu dan keterampilan pengerjaannya,” kata dia lagi.
Lebih lanjut, Menperin menjelaskan, batik asli, baik batik tulis maupun batik cap, dibuat melalui proses perintangan warna menggunakan malam atau lilin. Proses tersebut membuat motif batik menembus hingga bagian belakang kain dan menghasilkan karakter warna yang dapat berbeda antara satu sisi dengan sisi lainnya.
Adapun upaya yang dilakukan yakni melalui berbagai program pembinaan, pendampingan, serta penguatan ekosistem IKM batik, termasuk dukungan terhadap Pagelaran Seni Batik Indonesia Puspa Nuswantara 2026 yang diselenggarakan oleh Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APPBI) bersama Yayasan Batik Indonesia pada 8-12 Juli 2026 di Jakarta International Convention Center, Senayan, Jakarta.
Tujuan Pagelaran Seni Batik Puspa Nuswantara sejalan dengan tugas Kemenperin melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (Ditjen IKMA) untuk melindungi keaslian batik sekaligus mendorong pelaku IKM batik agar semakin naik kelas.
Direktur Jenderal IKMA Kemenperin Reni Yanita mengatakan, pihaknya secara konsisten menjalankan berbagai program pembinaan dan pendampingan untuk memperkuat daya saing IKM batik sekaligus menjaga keaslian produk batik.
Salah satu program yang dilakukan yaitu fasilitasi Batikmark, yang berupa pendampingan bagi IKM dalam memenuhi persyaratan sertifikasi sebagai tanda pengenal resmi batik buatan Indonesia.
Selain Batikmark, Kemenperin juga memberikan bimbingan teknis peningkatan efisiensi produksi IKM batik untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas produk, mulai dari tahap desain, pewarnaan, hingga proses finishing.
Kemenperin juga memperkuat perlindungan terhadap batik khas daerah melalui program Indikasi Geografis sebagai instrumen hukum bagi batik yang memiliki karakteristik dan kualitas yang berkaitan dengan wilayah asalnya.
Melalui program tersebut, batik daerah diharapkan memperoleh pengakuan dan perlindungan yang lebih kuat, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Selain itu, Reni menyampaikan, pihaknya juga terus menghadirkan berbagai program pendukung bagi IKM batik, seperti fasilitasi sertifikasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) self declare, restrukturisasi mesin dan peralatan produksi, peningkatan kompetensi sumber daya manusia, serta fasilitasi akses pasar dan pembiayaan.
Adapun data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, nilai ekspor produk batik pada tahun 2025 mencapai 30,62 juta dolar AS atau meningkat 13,03 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 26,63 juta dolar AS. []







