Visit Sponsor

Written by 1:10 pm Opini, Perempuan

Bonus Demografi Jadi ‘Pedang Bermata Dua’, Dina Hidayana: Bisa Tingkatkan Pengangguran Jika ‘Gagap’ Tentukan Skala Prioritas

Jakarta, Rakyat Menilai — Indonesia nampak sedang bersiap menyongsong proyeksi puncak Bonus Demografi, yakni pada tahun 2030. Peristiwa langka tersebut menjadi momentum strategis bagi perjalanan suatu bangsa, dimana jumlah warga usia produktif mendominasi. Ketepatan pendayagunaan SDM usia produktif menentukan daya lenting suatu bangsa.

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Depinas SOKSI, Dina Hidayana dalam kesempatan ziarah kebangsaan ke Makam Pendiri SOKSI Prof Suhardiman dan putranya, Bobby Suhardiman, di Evergreen Puncak Bogor.

Dina Hidayana, yang dikenal sebagai pakar pertahanan dan pangan ini mencontohkan beberapa negara yang berhasil memanfaatkan ketangguhan generasi muda produktif di masa Bonus Demografi, misalnya: Korea Selatan di kurun waktu 30 tahun (1960-1990).

Korea Selatan berhasil bertumbuh menjadi salah satu negara dengan perekonomian terkuat dan handal dalam teknologi serta industri karena menginvestasikan sebagian besar untuk pendidikan dan infrastruktur saat menyongsong fenomena ledakan warga usia 15-64 tahun.

“Lainnya, yakni Negara Tiongkok yang tumbuh pesat di akhir abad 20 buah dari optimalisasi bonus demografi, penguatan SDM melalui pendidikan dan pelatihan serta penguatan infrastruktur, menyebabkan Cina memiliki rata-rata pertumbuhan ekonomi 9%, juga beberapa negara lainnya tidak ingin melewatkan periode bonus demografi,” dikatakan Dina Hidayana dalam keterangannya kepada redaksi Golkarpedia.

“Namun, fenomena bonus demografi selalu bermakna ganda, menjadi peluang kemajuan di satu sisi serta sebagai ancaman merosotnya pertumbuhan ekonomi dan sosial di sisi satunya apabila tidak dimanfaatkan dengan baik,” lanjutnya lagi.

“Jika Pemerintah tidak menggunakan strategi dan alat ukur yang relevan, populasi produktif yang lebih dari 60% yang ada di kurun massa tertentu tersebut, akan meningkatkan laju pengangguran yang dalam jangka tertentu berkorelasi dengan tingkat kemiskinan, kriminalitas dan disintegrasi bangsa,” tambah Dina yang juga berprofesi sebagai Dosen tetap STIA Madani Klaten ini.

Selain itu, Dina menambahkan, akan ada beberapa pekerjaan yang diprediksi hilang di masa depan, tetapi ancaman ini tidak berlaku untuk sektor pangan dan pertanian yang akan terus ada selagi manusia masih hidup dimuka bumi.

“Karenanya, menumbuhkan skala industri pertanian yang sistematik dan komprehensif dengan melahirkan patriot-patriot pangan secara masif, baik di tingkat lokal maupun pusat yang terpadu, termasuk antar sub sektor dan sektor adalah sebuah keharusan bagi negara agraris yang memiliki kekayaan alam dan SDM berlimpah,” tegas Ketua Umum IKATANI UNS ini.

Berdasarkan rilis data Biro Pusat Statistik (BPS) pada Februari 2024, jumlah pengangguran terbuka mencapai 4,12%. Sementara disebutkan lapangan pekerjaan yang banyak menyerap tenaga kerja adalah di sektor pertanian, kehutanan dan perikanan dengan cakupan lebih dari 46%. Karena itu, sinkronisasi potensi antara ketersediaan SDM dan peluang kerja perlu dioptimalkan di sektor pangan dan pertanian perlu diprioritaskan.

“Keberlimpahan sumber daya manusia produktif ini perlu dididik dan dibekali keterampilan memadai untuk menguatkan industri pangan secara massal, baik itu untuk konsumsi dalam negeri, tujuan ekspor maupun cadangan dalam menghadapi krisis pangan ataupun dinamika global,” ucap politisi muda Partai Golkar ini.

“Kekuatan agraris haruslah dijadikan penopang utama atau soko guru dalam pembangunan, sebagaimana Teori Rostow yang menempatkan alur pertumbuhan suatu negara yang dimulai dengan stabilitas sektor pangan pertanian sebelum beranjak pada tingkat yang lebih maju, seperti industri manufaktur atau jasa sosial lainnya,” urai srikandi muda asli Solo yang dikenal gigih dalam memperjuangkan sektor pangan dan pertanian sebagai fundamental.

Keberadaan patriot pangan yang diwacanakan oleh Dina Hidayana, berupaya untuk mewujudkan visi kemandirian dan kedaulatan pangan. Selain itu, patriot-patriot dimaksud bukan hanya alumni kampus pertanian saja, namun seluruh aktor yang terlibat dan dilibatkan dalam upaya penguatan sektor pangan dari hulu sampai hilir.

“Patriot mengandaikan diri seperti adagium “bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”. Investasi di sektor pangan tidak bisa singkat, terutama dalam merubah mindset para pelaku tradisional dalam beradaptasi dengan perkembangan kebutuhan dan teknologi. Untuk Indonesia, kita masih perlu menerapkan teknik hibrid, yakni Modern dan Manual, mengingat melimpahnya ketersediaan SDM,” tegas Dina Hidayana.

“Komponen cadangan yang digagas oleh Kementerian Pertahanan RI melalui UU No 23/2019, salah satunya dapat diarahkan untuk membentuk Patriot-Patriot Pangan yang menjadi sumbu utama dari peradaban dan kemajuan suatu bangsa. Jangan sampai Bonus Demografi tersia-siakan karena kegagapan dalam melihat fokus prioritas dan visi bangsa ke depan serta pencanangan strategi yang lebih fundamental,” pungkas Dina Hidayana.

Silahkan baca artikel sumber di {golkarpedia.com}

(Visited 60 times, 1 visits today)