Firman Soebagyo di Hari Lahir Pancasila: Jangan Cuma Seremonial, Ini Tiga Tantangan Nyata yang Mengancam Persatuan

Jakarta, Wakil Ketua Fraksi Partai Golkar MPR RI Firman Soebagyo menegaskan bahwa peringatan Hari Lahir Pancasila setiap 1 Juni tidak boleh dimaknai sekadar sebagai kegiatan seremonial tahunan. Menurutnya, momentum ini harus menjadi pengingat keras bahwa Pancasila adalah fondasi utama rumah besar bernama Indonesia.

“Peringatan 1 Juni tidak boleh berhenti pada agenda tahunan semata. Ini adalah pengingat bahwa Pancasila merupakan fondasi rumah besar bernama Indonesia. Ketika fondasi itu retak karena ketidakadilan, perpecahan, dan hilangnya keteladanan, maka masa depan bangsa ikut dipertaruhkan,” tegas Firman Soebagyo.

Sebagaimana diberitakan RRI.co.id, Firman menyoroti tiga tantangan nyata yang membuat nilai-nilai Pancasila masih terasa jauh dari kehidupan masyarakat.

Pertama, kesenjangan ekonomi. Firman menilai sila kelima tentang Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia belum sepenuhnya dirasakan oleh petani, nelayan, pelaku UMKM, maupun para guru yang masih menghadapi berbagai hambatan dan regulasi yang memberatkan.

“Tantangan kedua adalah polarisasi yang semakin tajam akibat penyebaran hoaks dan politik identitas di media sosial. Persatuan Indonesia sedang diuji oleh arus informasi yang tidak selalu sehat. Karena itu, semangat Sila Ketiga harus terus dijaga agar perbedaan tidak berubah menjadi perpecahan,” ujar Firman.

Ia menambahkan, tantangan ketiga adalah lemahnya keteladanan dari sebagian elite dan penyelenggara pemerintahan. Menurut Firman, nilai kemanusiaan yang adil dan beradab tidak cukup hanya menjadi slogan, melainkan harus dimulai dari sikap para pejabat, tokoh masyarakat, dan pemimpin di berbagai tingkatan.

“Rakyat membutuhkan teladan, bukan hanya pidato. Sila Kedua harus hidup dalam perilaku para pemimpin. Ketika pejabat menunjukkan integritas, empati, dan keberpihakan kepada rakyat, maka Pancasila akan terasa nyata dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.

Firman yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia ini menyampaikan apresiasi terhadap gerakan moral anak bangsa yang memperingati Hari Lahir Pancasila dengan semangat “Bangkit dari Akar, Tumbuh untuk Semua”. Peringatan tersebut dihadiri tokoh masyarakat, pemuda, pelajar, serta warga lintas suku dan agama.

Sebagai bentuk implementasi konkret nilai-nilai Pancasila, Firman mendukung tiga program gerakan moral yang digagas dalam momentum Hari Lahir Pancasila.

Program pertama bertajuk ‘Satu Desa Satu Pancasila’, yakni diskusi rutin di desa dan kelurahan untuk membedah persoalan lokal dengan pendekatan nilai-nilai Pancasila, sekaligus memperkuat sosialisasi Empat Pilar MPR RI dan penyerapan aspirasi masyarakat.

Program kedua adalah ‘Koperasi Merah Putih’ yang diarahkan untuk memperkuat ekonomi berbasis gotong royong agar semangat keadilan sosial tidak berhenti sebagai konsep normatif, melainkan benar-benar hadir dalam aktivitas ekonomi masyarakat.

Program ketiga, ‘Sumpah Digital Beradab’, merupakan gerakan literasi digital untuk menolak ujaran kebencian serta memperkuat nilai kemanusiaan dan persatuan di ruang digital.

“Kami tidak meminta Pancasila hanya dihafal. Yang kami dorong adalah Pancasila dihidupi, dijiwai, dan dirasakan manfaatnya. Dari warung, sawah, pabrik hingga kantor pemerintahan, ketika negara hadir untuk rakyat kecil, di situlah Pancasila hidup dengan sendirinya,” ujar Firman.

Firman juga menegaskan pentingnya membudayakan Pancasila sejak usia dini melalui sistem pendidikan nasional. Ia mengusulkan agar pembacaan Pancasila dilakukan secara rutin di sekolah-sekolah mulai dari tingkat TK, SD, SMP hingga SMA sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai, disertai menyanyikan lagu Indonesia Raya.

“Budaya itu juga bisa diterapkan di lingkungan pemerintahan, mulai dari desa hingga tingkat kabupaten dan kota. Dengan cara demikian, ideologi Pancasila akan lebih mudah dipahami, dijiwai, dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari,” pungkas anggota Komisi II DPR yang aktif melakukan sosialisasi Empat Pilar MPR RI hingga ke berbagai desa ini.

rakyatmenilai.com
Referensi Utama Analisis Kebijakan Dan Geopolitik