Jakarta, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN tengah merumuskan Kartu Lansia Nasional sebagai upaya meringankan beban penduduk lanjut usia (lansia). Langkah ini diambil untuk menghadapi fenomena aging population atau penuaan penduduk yang semakin nyata di Indonesia.
Saat ini, Indonesia telah memasuki fase aging population dengan proporsi lansia mencapai hampir 12 persen dari total penduduk. Kondisi ini menuntut kehadiran negara untuk memberikan perhatian dan kemudahan akses bagi para lansia agar tetap hidup produktif dan sejahtera.
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga/Kepala BKKBN), Wihaji, mengakui bahwa perumusan Kartu Lansia memang masih berproses dan belum final. Program ini membutuhkan koordinasi lintas kementerian dan pemangku kepentingan agar implementasinya berjalan efektif.
“Kartu Lansia kita lagi dirumuskan, memang agak rumit. Walaupun sudah ada yang jalan, seperti DKI Jakarta, kan saya kira sudah jalan. Ada kabupaten/kota yang jalan karena mereka mengintegrasikan dengan program pemerintah daerah, sehingga langsung dikasih kartu lansia, cuma modelnya macam-macam,” kata Mendukbangga Wihaji dalam peringatan Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) ke-30 di Jakarta, Selasa (9/6/2026).
Sebagaimana diberitakan Golkar2029.com, Menteri Wihaji menegaskan bahwa Kemendukbangga/BKKBN terus memperjuangkan program Kartu Lansia tersebut. Salah satu target utama adalah memberikan kemudahan akses bagi penduduk usia tua untuk menikmati berbagai program publik, termasuk diskon transportasi umum.
“Minimal dengan Menteri Perhubungan sudah jalan, karena ada diskon 20 persen dari Kementerian Perhubungan. Itu bagian dari program bersama yang saya kira untuk meringankan beban, khususnya lansia,” paparnya.
Ia mengakui program Kartu Lansia tersebut memang belum sempurna. Namun Kemendukbangga/BKKBN terus berupaya bekerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan untuk memperjuangkan agar para penduduk tua bisa hidup lebih terjamin dan sejahtera.
“Jadi, untuk beberapa kabupaten/kota sudah ada, tetapi menggunakan pembiayaan dari pemerintah daerah masing-masing. Karena memang secara nasional masih dirumuskan dengan berbagai pemangku kepentingan, tetapi belum final,” ucap Mendukbangga Wihaji.
Selain merumuskan Kartu Lansia, Kemendukbangga/BKKBN juga memiliki program prioritas lain yang sudah berjalan, yaitu Sekolah Lansia. Program ini dirancang untuk memberikan aktivitas dan pendidikan bagi para lansia agar tidak merasa kesepian di masa tua.
Dalam rangka memperingati HLUN ke-30 dan Hari Keluarga Nasional ke-33 yang jatuh pada 29 Juni 2026 mendatang, Kemendukbangga/BKKBN baru saja mewisuda 387 mahasiswa Sekolah Lansia. Mereka berasal dari berbagai wilayah di Indonesia, mulai dari jenjang S1, S2, hingga S3.
“Kebetulan kita mewisuda 387 S1, S2, S3 untuk Sekolah Lansia, bagian dari program kementerian kita. Ini salah satu program prioritas karena lumayan di Indonesia sudah ada 11 persen lebih, hampir 12 persen aging population kita. Negara butuh hadir, pemerintah butuh hadir karena beliau-beliau rata-rata kesepian. Oleh karena itu kita bikin aktivitas, salah satunya melalui Program Sekolah Lansia,” ujar Mendukbangga Wihaji.
Dengan adanya Kartu Lansia Nasional yang sedang dirumuskan, diharapkan para lansia tidak hanya mendapatkan kemudahan akses transportasi dengan diskon 20 persen, tetapi juga berbagai kemudahan lain di sektor publik. Program ini menjadi bukti kehadiran negara dalam menjaga kesejahteraan penduduk usia lanjut di tengah meningkatnya jumlah lansia setiap tahun.
rakyatmenilai.com
Referensi Utama Analisis Kebijakan Dan Geopolitik







