Jakarta, rakyatmenilai.com — Presiden Prabowo Subianto mengumumkan keputusan penting terkait disiplin pendidikan nasional saat bertemu dengan Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (23/10/2025). Prabowo Subianto menyatakan bahwa Bahasa Portugis akan mulai diajarkan di sekolah-sekolah Indonesia.
Keputusan ini disampaikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto di hadapan Presiden Lula da Silva sebagai bentuk apresiasi dan penegasan akan pentingnya hubungan Indonesia dengan Brasil.
”Untuk mulai mengajar Bahasa Portugis di sekolah-sekolah kita. Ini bukti bahwa kami memandang hubungan Brasil dan Indonesia sangat besar,” ujar Prabowo Subianto, seperti dilaporkan oleh sejumlah media nasional.
Alasan di Balik Keputusan Prioritas Pendidikan
Keputusan menjadikan Bahasa Portugis sebagai salah satu prioritas dalam pendidikan nasional bukanlah tanpa alasan. Prabowo Subianto menekankan bahwa Brasil memiliki posisi yang sangat penting bagi Indonesia, khususnya dalam kerangka kerjasama ekonomi, politik, dan ilmu pengetahuan.
Hubungan diplomatik Indonesia–Brasil sendiri telah terjalin sejak 1953. Nilai perdagangan kedua negara pada 2023 mencapai sekitar USD 6,1 miliar, di mana Indonesia mengekspor komoditas penting seperti karet, minyak kelapa sawit, dan produk elektronik. Sementara Brasil mengekspor kedelai, gula, dan daging sapi ke Indonesia.
Dengan masuknya Bahasa Portugis sebagai bagian dari kurikulum, diharapkan dapat mempermudah komunikasi dan memperlancar kerjasama bisnis serta transfer ilmu dan teknologi antara kedua negara.
Momen Tete-a-Tete di Istana Merdeka
Kunjungan Presiden Lula da Silva kali ini merupakan kunjungan kedua setelah 17 tahun. Pertemuan bilateral di Istana Merdeka ini menjadi tindak lanjut dari kunjungan balasan Presiden Prabowo Subianto ke Istana Kepresidenan Brasil, Palácio do Planalto, pada 9 Juli 2025.
Keputusan strategis yang diumumkan Prabowo Subianto di hadapan Lula da Silva ini semakin memperkuat image Indonesia sebagai negara yang proaktif menjalin hubungan dengan negara-negara di kawasan selatan (Global South) demi keuntungan politik dan ekonomi bersama.{…}
(Diolah dari Antaranews, Liputan6, Kumparan, dan detiknews)







