India & China ‘Kangkangi’ Tekanan Barat: Rusia Raup Cuan Tambahan Rp110 Triliun Per Bulan!

Energi22 Views

NEW DELHI – Ketegangan yang terus meningkat di Asia Barat secara dramatis mengubah peta perdagangan energi global. Di tengah tekanan diplomatik dan sanksi dari blok Barat pimpinan Amerika Serikat, India justru dilaporkan mempercepat pembelian minyak mentah dari Rusia dalam skala besar. Langkah serupa juga diikuti oleh China yang terus mempertahankan volume impor minyak mentah dari Iran, menciptakan aliansi energi yang kian sulit ditembus oleh narasi isolasi ekonomi internasional.

​Berdasarkan data terbaru dari firma analisis energi Kpler, India telah membeli sekitar 10 juta barel minyak mentah Rusia hanya dalam sepuluh hari pertama di bulan Maret 2026. Angka ini dipastikan akan terus melonjak tajam setelah adanya pesanan tambahan sebesar 23 juta barel yang dijadwalkan tiba sebelum akhir bulan ini. Total komitmen impor India yang terkonfirmasi saat ini telah mencapai angka 33 juta barel, sebuah volume yang menggetarkan pasar energi dunia.

​Dengan sisa waktu hampir 20 hari di bulan Maret, para analis memprediksi pembelian India bisa melampaui rekor sebelumnya yang dicapai pada Mei 2023. Saat itu, India mengimpor hampir 2 juta barel minyak Rusia per hari. Fenomena ini menunjukkan bahwa kebijakan luar negeri India yang pragmatis lebih mengutamakan ketahanan energi nasional dibandingkan mengikuti agenda sanksi yang didorong oleh Washington.

Dominasi Minyak Iran di Laut China dan Jalur Alternatif Jask

​Di sisi lain, China terus memperkokoh posisinya sebagai konsumen utama minyak Iran meskipun tensi geopolitik sedang memanas. Stok minyak di perairan dekat China, termasuk Laut Kuning, Laut China Timur, hingga Laut China Selatan, dilaporkan telah mencapai angka sekitar 40 juta barel. Dari jumlah tersebut, hampir 30 juta barel di antaranya merupakan minyak mentah yang berasal langsung dari Iran.

​Antara tanggal 1 hingga 10 Maret, Iran tercatat telah mengirimkan 11,7 juta barel minyak mentah ke China melalui Selat Hormuz. Data ini menjadi bukti kuat bahwa rute pasokan strategis tersebut tetap beroperasi normal bagi kapal-kapal tanker yang menuju pelabuhan China. Teheran tampaknya berhasil menjaga kelancaran distribusi energinya ke Beijing di tengah ancaman blokade atau gangguan keamanan di kawasan Teluk.

​Tidak hanya mengandalkan Selat Hormuz, Iran juga mulai mendiversifikasi rute ekspor melalui Terminal Bandar-e-Jask yang memungkinkan pengiriman melewati jalur pintas. Sebuah kapal tanker berkapasitas 2 juta barel dilaporkan telah memuat minyak dari terminal ini dan berangkat menuju China. Langkah diversifikasi ini memperkecil risiko gangguan distribusi dan memastikan aliran energi ke sekutu strategisnya tetap terjaga tanpa hambatan berarti.

Keuntungan Fantastis Moskow: Suntikan Dana Segar Rp110 Triliun Per Bulan

​Penerima manfaat finansial terbesar dari krisis energi global saat ini tak lain adalah Rusia. Dengan meroketnya harga minyak dunia, minyak mentah Rusia kini dilaporkan terjual dengan harga sekitar $5 di atas harga patokan Brent. Harga tersebut mendorong nilai minyak Rusia mendekati angka $93 per barel, jauh melampaui ekspektasi awal para analis Barat yang sebelumnya memprediksi harga di kisaran $59 per barel.

​Mengingat Rusia mengekspor rata-rata 7 hingga 7,5 juta barel minyak per hari, lonjakan harga ini menghasilkan pendapatan tambahan yang luar biasa besar bagi Moskow. Diperkirakan, Rusia meraup tambahan pendapatan sekitar $250 juta per hari atau setara dengan lebih dari $7 miliar dalam satu bulan. Jika dikonversi ke mata uang nasional, angka ini menembus sekitar Rp110 triliun per bulan (asumsi kurs Rp15.750 per USD), sebuah suntikan dana segar yang secara otomatis memperkuat cadangan devisa Rusia di tengah biaya konflik yang terus membengkak.

​Perkembangan ini menyoroti bagaimana ketegangan geopolitik di Asia Barat justru membentuk kembali aliran energi global. Aliansi perdagangan minyak antara Rusia, India, China, dan Iran semakin solid dan sulit digoyahkan. Transformasi ini tidak hanya memperlemah efektivitas sanksi ekonomi Barat, tetapi juga menggeser pusat kekuatan ekonomi energi ke arah Timur secara permanen.

Analisis Rakyat Menilai

​Rakyatmenilai.com melihat fenomena ini sebagai kegagalan telak dari strategi isolasi ekonomi yang dijalankan oleh Amerika Serikat dan sekutunya. Ketika India dan China memilih untuk memprioritaskan kepentingan ekonomi domestik mereka, maka “senjata” sanksi energi menjadi tidak lagi relevan. Dunia kini menyaksikan munculnya blok ekonomi baru yang berbasis pada kebutuhan energi riil, bukan lagi sekadar mengikuti arahan politik satu kekuatan tunggal.

​Bagi Indonesia, manuver India dan China ini memberikan pelajaran penting mengenai pentingnya diversifikasi sumber energi dan keberanian dalam mengambil sikap di tengah konflik global. Kedaulatan energi adalah fondasi utama bagi kemandirian sebuah bangsa. Jika India dan China mampu mengamankan pasokan mereka dengan harga yang kompetitif, maka Indonesia pun harus lebih cerdik dalam mengelola kerja sama energi internasional demi menjamin stabilitas harga di dalam negeri.

Sumber Atribusi: Data Analitik Kpler, Antaranews, & Laporan Energi Internasional.