Pakar Pertahanan Universitas Pertahanan (Unhan), Dina Hidayana, menilai posisi politik luar negeri non-blok yang selama ini menjadi identitas Indonesia mulai menghadapi tantangan serius di tengah perubahan geopolitik global yang semakin kompleks dan agresif. Menurutnya, konsep non blok yang dahulu dianggap ideal kini perlu ditinjau ulang agar Indonesia tidak terjebak dalam posisi pasif di tengah pertarungan kekuatan besar dunia.
Pandangan tersebut disampaikan Dina dalam podcast Ngopini yang dipandu Bang Annam, Ajo Gilang, dan Mas Rezha yang mengangkat pembahasan mengenai, “Non Blok Atau Galau? Indonesia di Tengah Perebutan Pengaruh Global”.
Dalam podcast Ngopini tersebut, Dina menjelaskan bahwa pada masa lalu posisi non-blok memang menjadi pilihan yang “nyaman” dan menguntungkan bagi Indonesia. Konsep tersebut lahir ketika dunia terbelah dalam dua kutub besar, yakni blok barat dan blok timur, sehingga negara-negara berkembang memilih tidak berpihak demi menjaga independensi politik dan kedaulatan nasional.
Namun menurut Dina, situasi global saat ini jauh berbeda dibanding era awal Gerakan Non-Blok dibentuk. Dunia kini bergerak lebih dinamis, penuh rivalitas ekonomi, teknologi, militer, hingga perebutan pengaruh geopolitik yang semakin terbuka.
“Non-blok itu sebetulnya situasi yang asyik di masa itu. Tetapi sekarang kita menghadapi perubahan dinamika lingkungan strategis yang sangat masif. Dunia berubah cepat sekali. Kalau kita tidak mampu beradaptasi, posisi non-blok yang dulu menguntungkan justru bisa membuat kita tersandera,” ujar Dina.
Ia mengatakan, tantangan terbesar Indonesia saat ini adalah bagaimana menjaga kepentingan nasional di tengah pertarungan hegemoni global tanpa kehilangan ruang gerak diplomasi dan pembangunan.
Menurut alumnus resolusi konflik UGM ini, ada pandangan yang berkembang bahwa Indonesia tidak bisa lagi berjalan sendiri apabila ingin melakukan lompatan besar sebagai kekuatan dunia.
“Kalau kita berjalan sendiri, kita tidak bisa melakukan lompatan jauh. Untuk melakukan lompatan besar, kita perlu teman. Teman yang bisa memperkaya pengetahuan kita, melengkapi kekurangan kita, dan bersinergi memenuhi kepentingan bersama,” katanya.
Ia menegaskan bahwa dalam dunia modern, kerja sama antarnegara bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan strategis. Tidak ada negara yang mampu memenuhi seluruh kebutuhan teknologi, pertahanan, ekonomi, maupun industrinya secara mandiri.
Karena itu, menurut Dina, Indonesia perlu membangun relasi global yang lebih fleksibel dan tidak terjebak pada cara pandang lama yang terlalu berhati-hati hingga akhirnya kehilangan momentum strategis.
“Persoalannya hari ini, ketika kita mengklaim diri sebagai non-blok, saat kita berteman dengan blok A, blok B marah. Ketika kita dekat ke blok B, blok A juga marah. Akhirnya kita sering berada dalam posisi serba salah,” ujar Ketua Umum Ikatan Alumni Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret (IKATANI UNS) ini.
Dina menilai rivalitas kekuatan besar dunia saat ini tidak bisa dilepaskan dari konteks sejarah panjang pertarungan global sejak era Perang Dunia hingga Perang Dingin. Menurutnya, meskipun banyak pihak mengatakan dunia kini semakin cair dan tidak lagi terbagi dalam blok-blok tertentu, realitas di lapangan menunjukkan kutub-kutub kekuatan itu masih hidup dan sangat memengaruhi arah politik internasional.
“Pertarungan hegemonis sekarang semakin kuat dan ternyata tidak bisa dilepaskan dari sejarah. Dulu ada blok barat dan blok timur, ada kutub utara dan kutub selatan. Sampai hari ini pengaruh itu masih terasa. Memang ada yang bilang dunia sekarang sudah cair, semua tergantung kepentingan masing-masing negara. Tapi kalau kita lihat realitasnya, pembelahan itu masih hidup,” jelasnya.
Menurut Dina, situasi tersebut membuat Indonesia harus mulai memikirkan pendekatan baru dalam politik luar negeri agar tidak terus berada dalam posisi defensif.
Omni-Blok Jadi Alternatif Terbaik
Ia kemudian memperkenalkan konsep yang menurutnya lebih relevan dengan situasi global saat ini, yakni omni-blok. Konsep tersebut memungkinkan Indonesia menjalin hubungan dengan semua pihak secara terbuka berdasarkan kepentingan nasional tanpa harus terjebak dalam loyalitas terhadap salah satu blok kekuatan dunia.
“Kalau saya pribadi justru lebih senang dengan posisi omni-blok. Omni-blok itu memungkinkan kita bergaul dengan semua pihak tanpa batas, sesuai dengan kepentingan nasional kita,” katanya.
Dina kemudian menggambarkan perbedaan non-blok dan omni-blok dengan analogi sederhana yang memancing perhatian dalam diskusi tersebut.
“Kalau non-blok itu ibarat pesta perkawinan. Ada dua teman kita yang sedang bermusuhan. Karena kita netral, akhirnya kita memilih tidak datang ke keduanya supaya dianggap aman. Nah itu konsepsi non-blok,” ujarnya.
“Tapi dalam konsep omni-blok berbeda. Si A dan si B konflik itu tidak masalah buat kita. Kita tetap bisa datang ke keduanya, tetap bisa berteman dengan keduanya, karena kita punya kepentingan sendiri yang harus dijaga,” sambung Dina.
Namun ia mengingatkan bahwa posisi omni-blok bukan sesuatu yang mudah dijalankan. Menurutnya, pendekatan tersebut membutuhkan kemampuan diplomasi yang sangat matang agar Indonesia tetap diterima semua pihak tanpa memicu kecurigaan ataupun ketegangan baru.
“Persoalannya adalah caranya. Bagaimana ketika kita datang ke A, si B tidak marah. Ketika kita datang ke B, si A juga tidak tersinggung. Ini membutuhkan kepiawaian luar biasa. Personality negara itu harus sangat baik untuk bisa membawa diri di antara dua kekuatan besar tanpa menimbulkan ketersinggungan,” tegasnya.
Dina menilai, kemampuan memainkan posisi strategis di tengah rivalitas global akan menjadi tantangan besar bagi Indonesia ke depan. Terlebih, dunia saat ini tidak lagi bergerak berdasarkan idealisme semata, melainkan kepentingan nasional yang sangat pragmatis.
Ia menegaskan bahwa Indonesia perlu memiliki keberanian untuk membaca ulang arah politik luar negerinya tanpa kehilangan prinsip dasar kedaulatan nasional.
“Dunia sekarang tidak lagi sesederhana hitam dan putih. Semua bergerak berdasarkan kepentingan. Pertanyaannya sekarang, mampukah Indonesia memainkan posisi omni-blok itu? Karena kalau tidak hati-hati, kita bisa kehilangan momentum di tengah pertarungan global yang semakin panas,” pungkas Dina yang juga putri Alm CPM Mardani, AKABRI 1974. {radaraktual}







