Visit Sponsor

Written by 5:55 pm Opini

Kudeta, Torpedo dan Prabowo

Kalau ada yang masih nyinyir dengan kasus yang pernah menimpa Prabowo Subianto — dan sudah disidang — dan sudah dihukum –, perlu diingatkan dengan the diamond history sejarah Indonesia yang berakar dalam sejarah banyak kerajaan besar di nusantara. Bahwa, militer Indonesia, sama sekali tidak pernah (berani, tega) melakukan kudeta. Sebab hanya militer Indonesia yang tak mengenali kromosom berdasarkan etnis atau geneanologi.

Militer Indonesia berasal dari rakyat kebanyakan, bahkan sering dari kelas sosial terendah, kalau kita mengenal kasta. Militer Indonesia dari kasta paria. Ken Arok, sebelum terhipnotis terhadap betis bunting padi Ken Dedes, adalah perampok yang bahkan tak punya markas.

Ken Arok pindah dari satu huma atau pondok yang ditinggalkan petani. Selain berteduh, tentu mengais makanan, serta alutsita, kalau ada sabit atau golok yang belum diasah. Gajah Mada lahir dari rahim perempuan Dharmasraya, dan prajurit tua asal Shingosari yang ikut ekspedisi Pamalayu.

Dalam zaman perang kemerdekaan, militer Indonesia, baik profesional alias didikan tentara kolonial atau laskar, selalu mengandalkan dapur umum atau nasi bungkus warga.

Militer Indonesia pernah begitu gagah menjaga kekuasaan Presiden Soeharto. Tetapi sikap dan mentalitas itu datang bukan saja dari skema “pahlawan vs pengkhianat” yang tumbuh dari dalam, melainkan akibat pengaruh dari Perang Dunia II dan Perang Dingin yang mengikuti.

Itupun tetap dalam “jampi-jampi” kemerdekaan Aceh yang angkatan pemberontaknya dilatih di Libya, kemerdekaan Timor Timor yang kemudian benar-benar “diberikan” oleh Presiden BJ Habibie, hingga kemungkinan hadir negara Melanesia di Papua. Hingga kini, soal ini belum benar-benar selesai.

Kalaupun ada yang benar-benar dilawan oleh militer Indonesia, tentu bernama fasisme, baik fasisme relegius, fasisme ekonomi, fasisme kelas, hingga fasisme berbentuk apapun, bahkan fasisme atas nama aktivisme, sebagaimana Robespiere mengalami. Nama Subianto yang berada di belakang Prabowo, ibarat chips atau prosesor yang bakal bekerja dalam seluruh jiwa dan raga Prabowo Subianto.

Coba baca sejarah pergerakan mahasiswa di Italia dan Jepang, bagaimana mahasiswa bekerjasama dengan Tentara Merah guna menculik, bahkan membunuh, para politisi. Tokoh-tokoh gerakan mahasiswa di negara-negara tersebut dipuja bagai mitos, dan tenu jadi pahlawan sepanjang masa, walau menggunakan penculikan — bahkan pembunuhan — sebagai senjata.

Kenapa?

Fasisme jauh lebih berbahaya dibanding apapun. Sulit dikalahkan, jika sudah menang dan menjadi ideologi satu bangsa. Jangankan satu bangsa atau negara menjalankan fasisme, bahkan satu orang saja, sudah jadi semacam virus yang nanti bisa mengubah manusia menjadi mayat hidup. Sebab, fasisme tak (hanya) tumbuh di kalangan militer atau purnawirawan militer, tetapi terlebih-lebih lagi di kalangan sipil yang terbawa karakter dewa-dewa salam mitologi Yunani.

Fasisme yang tentu berbeda dengan tumbuhan epifit, yakni jenis tumbuhan yang memerlukan tumbuhan lain sebagai penopang, namun tidak merugikan inangnya.

Ketika sejumlah aktivis, pemikir, atau kaum cendekiawan yang satu angkatan di atas saya, seperti Ichsan Loulembah, Nirwan Arsuka, dan Rahardjo Waluyo Jati, meninggal dunia, saya tak henti mengusap air mata. Dalam chatting dengan seseorang, saya tentu menyampaikan pendapat. Satu meninggal, Sunattulah. Dua meninggal, kebetulan. Tiga orang meninggal, sudah bisa jadi data. Sebab, ketiga tokoh itu terkena serangan jantung dalam waktu yang tak kurang dari 10 hari.

Baik, saya tak hendak berspekulasi, apalagi menebar teori konspirasi. Apa yang berlangsung di seluruh dunia kini benar-benar sangat mencengangkan. Kudeta di Negieria, salah satunya. Belum lagi pergerakan pasukan angkatan laut Amerika Serikat ke arah teluk.

Sebab, angkatan laut Iran ditengarai sudah mengganggu dan mengintervensi minimal 20 lebih kapal dagang milik swasta. Dan, ujungnya, adalah torpedo air yang digunakan angkatan laut Tiongkok terhadap kapal Philipina. Andai Kardinal Jaime Sin yang berdarah Tionghoa itu masih hidup, saya meyakini bakal ada — minimal — perlawanan aksi massa di jalanan utama Manila.

Hendrik Kwok yang kni jadi Pastor dan Coen Husein Pontoh, begitu juga Dono Widiatmoko, Rully Manurung, Anas Alamudi, dan sebagian nama dari kalangan aktivis mahasiswa intra dan ekstra kampus 1990an yang kini berada di luar negeri, barangkali ikut memperhatikan itu.

Bukan hanya Philipina yang kini bak negara lepra, tetapi merambah ke Thailand, Myanmar (Burma), dan Kamboja, dengan kasus (semacam) fasisme yang berbeda. Demokrasi tak dikehendaki oleh — terutama — kalangan militer. Kamboja lebih ajaib lagi, hanya menyertakan satu partai dalam pemilihan umum.

Baik, saya berhenti di sini dulu. Hari ini mestinya saya menulis tentang Hadir Runing, alias Rabu Kuning. Tapi tak apa, saya jarang sekali menulis nama Prabowo Subianto. Sekali menulis tahun 2019, langsung dapat Juara 1 dari Kompasiana dengan honor Rp. 1,5 Juta dipotong pajak.

Biar tulisan ini tidak terlalu dini diumumkan sebagai juara, saya cicil saja. Sudah pasti saya akan menulis tentang Ganjar Pranowo, berhubung tulisan saya tentang Anies Baswedan malah sudah dicetak menjadi buku.

Rabu Kuning, Markas Sang Gerilyawan Nusantara, 09 Agustus 2023

Oleh Indra J Piliang

Panglima Besar Sang Gerilyawan Nusantara {golkarpedia}

(Visited 65 times, 1 visits today)