Rakyatmenilai.com | Klaten — Pelaksanaan Sholat Hari Raya Iduladha 10 Dzulhijah 1447 Hijriah di Lapangan Desa Tlogorandu, Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten berlangsung khidmat dan penuh nuansa kebersamaan. Ribuan jamaah memadati lapangan sejak pagi hari untuk menunaikan ibadah sekaligus mempererat ukhuwah antarwarga.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Forum Komunikasi Takmir Masjid Tlogorandu (FKTM), sebuah forum yang menghimpun para takmir masjid dan mushola se-Desa Tlogorandu dalam membangun sinergi kegiatan keagamaan dan sosial kemasyarakatan.
Adapun masjid dan mushola yang terlibat dalam FKTM antara lain:
- Masjid Al Hikmah (Tlogorandu Kidul)
- Masjid Al Ikhlas (Dukuh Tlogorandu Lor)
- Masjid Shirotolmustaqim (Kemiri Barat)
- Mushola Al Firdaus (Kemiri)
- Masjid Miftahul Jannah (Ngekel)
- Mushola Thoriqul Jannah (Ngekel Timur)
- Masjid Baiturohman (Ngekel Timur)
- Mushola Annur (Ngekel)
Pelaksanaan Sholat Iduladha tahun ini tidak hanya menunjukkan tingginya antusiasme masyarakat, namun juga memperlihatkan kuatnya kolaborasi antara elemen masyarakat dengan Pemerintah Desa Tlogorandu. Dukungan penuh pemerintah desa tampak nyata sejak tahap persiapan hingga pelaksanaan kegiatan.
Sehari sebelum pelaksanaan, area lapangan telah dipersiapkan secara maksimal, termasuk pembersihan rumput dan penataan lokasi agar jamaah dapat beribadah dengan nyaman. Selain itu, pemerintah desa juga membantu berbagai kebutuhan sarana dan prasarana pendukung kegiatan.
Menariknya, keterlibatan Pemerintah Desa Tlogorandu tidak hanya bersifat administratif, namun juga langsung masuk dalam struktur kepanitiaan. Kepala Desa Tlogorandu, Bapak Sandy Damara, bersama seluruh perangkat desa turut ambil bagian dalam menyukseskan kegiatan tahunan umat Islam tersebut.
Sinergi itu semakin kuat karena Ketua FKTM sendiri dijabat oleh Bapak Joko Purnomo, yang juga merupakan Sekretaris Desa Tlogorandu. Kolaborasi antara unsur pemerintahan desa dan para takmir masjid dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga kekompakan serta memperkuat tradisi kebersamaan masyarakat Tlogorandu.

Bertindak sebagai Imam dan Khotib Sholat Iduladha adalah Ust. Lutfi Romadhon, S.Ag dari Pondok Pesantren Al Ukhuwah Sukoharjo. Dalam khutbahnya, beliau menekankan pentingnya meningkatkan ketakwaan dan mempersiapkan bekal akhirat di tengah kehidupan dunia yang penuh ketidakpastian.
Khotib mengutip firman Allah SWT dalam:📖 Surat Ali ‘Imran Ayat 102
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Yaa ayyuhalladziina aamanu ittaqullaaha haqqa tuqaatihii wa laa tamuutunna illaa wa antum muslimuun
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.”
Selain itu, khotib juga mengingatkan pentingnya menjadikan takwa sebagai bekal utama kehidupan melalui: 📖 Surat Al-Baqarah Ayat 197
وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ ۚ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ
Wa tazawwaduu fa inna khairaz-zaadit-taqwaa, wattaquunii yaa ulil-albaab
“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa, dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.”
Dalam penyampaian khutbahnya, Ust. Lutfi Romadhon juga mengangkat kisah keteladanan keluarga Nabi Ibrahim AS, Nabi Ismail AS, dan Siti Hajar sebagai simbol keimanan, kesabaran, pengorbanan, dan perjuangan dalam mempertahankan tauhid.

Keteladanan Tauhid dan Akhlak Nabi Ibrahim kepada Orang Tua
Khotib menjelaskan bahwa perjuangan Nabi Ibrahim AS dimulai dari lingkungan keluarganya sendiri ketika beliau berdakwah kepada sang ayah yang menjadi pembuat berhala. Dengan penuh adab dan kelembutan, Nabi Ibrahim mengingatkan ayahnya agar tidak menyembah sesuatu yang tidak mampu mendengar, tidak melihat, maupun memberikan pertolongan sedikit pun sebagaimana diabadikan Allah SWT dalam Surat Maryam ayat 42:
“Wahai ayahku! Mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolongmu sedikit pun?”
Namun penolakan dan ancaman dari ayahnya tidak membuat Nabi Ibrahim kehilangan akhlak dan kesantunan. Dalam khutbahnya, Ust. Lutfi Romadhon menekankan bahwa Nabi Ibrahim tetap menjawab dengan penuh kelembutan dan doa kebaikan.
📖 Surat Maryam Ayat 47
Artinya: “Semoga keselamatan tercurah kepadamu, wahai ayahku. Aku akan memohonkan ampunan untukmu kepada Tuhanku, sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku.”
Menurut khotib, sikap tersebut menjadi pelajaran besar bagi umat Islam tentang pentingnya menjaga adab kepada orang tua meskipun menghadapi perbedaan keyakinan ataupun perlakuan yang menyakitkan. Nabi Ibrahim tidak membalas cacian dengan kemarahan, tetapi dengan doa dan kelembutan hati. Inilah bentuk nyata tauhid yang melahirkan akhlak mulia.
Ujian Keimanan dan Doa Nabi Ibrahim Memohon Keturunan Saleh
Setelah hijrah meninggalkan negerinya demi mempertahankan tauhid, Nabi Ibrahim AS memohon kepada Allah SWT agar diberikan keturunan yang saleh.
Dalam firman-Nya pada 📖 Surat As-Saffat Ayat 100
رَبِّ هَبْ لِيْ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ
Rabbi hab lii minas-shaalihiin
“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku keturunan yang termasuk orang-orang saleh.”
Allah SWT kemudian memberikan kabar gembira tentang lahirnya Nabi Ismail AS, seorang anak yang dikenal sangat sabar dan santun sebagaimana disebutkan dalam Surat Ash-Shaffat ayat 101:
“Maka Kami beri kabar gembira kepadanya dengan seorang anak yang sangat sabar dan santun.”
Khotib menjelaskan bahwa setelah penantian panjang mendapatkan keturunan, Allah SWT kembali menguji Nabi Ibrahim dengan ujian yang sangat berat. Ketika Nabi Ismail mulai tumbuh remaja dan menjadi anak yang saleh serta berbakti, Allah justru memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih putranya sendiri melalui mimpi yang hak.
Dialog Penuh Kasih Sayang antara Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail
Dalam khutbahnya, Ust. Lutfi Romadhon juga menyoroti bagaimana Nabi Ibrahim AS tidak menjalankan perintah tersebut secara otoriter. Beliau justru membangun komunikasi yang penuh kasih sayang dan penghormatan kepada anaknya. Khotib menyebut kisah ini sebagai pelajaran besar dalam pendidikan keluarga dan parenting Islami.
Dialog tersebut diabadikan Allah SWT dalam Surat Ash-Shaffat ayat 102:
“Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.”
Khotib menjelaskan bahwa panggilan “Yaa bunayya” menunjukkan kelembutan seorang ayah kepada anaknya. Nabi Ibrahim meminta pendapat Nabi Ismail bukan karena ragu terhadap perintah Allah, tetapi agar anaknya menjalani ujian tersebut dengan penuh kesadaran dan keikhlasan.
Respons Nabi Ismail AS pun menjadi teladan luar biasa dalam sejarah umat manusia. Dalam ayat yang sama, Nabi Ismail menjawab:
“Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
Menurut khotib, jawaban Nabi Ismail menunjukkan kualitas pendidikan tauhid yang kuat dalam keluarga Nabi Ibrahim AS. Kesabaran, ketundukan kepada Allah, serta penghormatan kepada orang tua lahir dari iman yang benar dan pendidikan yang penuh kasih sayang.
Fondasi Ibadah Kurban dan Makna Ketakwaan
Khotib menegaskan bahwa puncak ujian keimanan terjadi ketika Nabi Ibrahim AS benar-benar siap melaksanakan perintah Allah SWT. Ketika Nabi Ibrahim telah membaringkan putranya dan bersiap menggoreskan pisau, Allah SWT kemudian memanggil beliau sebagai tanda kelulusan ujian iman terbesar tersebut.
Sebagaimana firman Allah SWT dalam Surat Ash-Shaffat ayat 104–105:
“Dan Kami panggillah dia, ‘Wahai Ibrahim! Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu.’ Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.”
Allah SWT kemudian menggantikan Nabi Ismail AS dengan seekor sembelihan besar yang menjadi asal mula disyariatkannya ibadah kurban bagi umat Islam hingga saat ini.
Dalam lanjutan khutbahnya, khotib juga menjelaskan bahwa setelah peristiwa tersebut Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim AS bersama Nabi Ismail AS untuk meninggikan kembali bangunan Ka’bah yang sebelumnya hanya tersisa pondasi. Peristiwa tersebut diabadikan dalam firman Allah SWT Surat Al-Baqarah Ayat 127 :
“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan fondasi Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), ‘Ya Tuhan kami, terimalah dari kami (amal ini). Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.’”
Menurut khotib, doa “Rabbanaa taqabbal minnaa” mengandung pelajaran besar tentang pentingnya keikhlasan dalam setiap amal ibadah. Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail yang telah menjalankan perintah Allah dengan pengorbanan luar biasa pun tetap memohon agar amal mereka diterima oleh Allah SWT.
Khotib mengingatkan bahwa sebesar apa pun pengorbanan dan ibadah manusia akan menjadi sia-sia apabila tidak dilandasi keikhlasan. Karena itu, umat Islam dianjurkan untuk terus berdoa memohon agar sholat, kurban, zakat, dan seluruh amal ibadah diterima oleh Allah SWT, serta menjauhi sifat riya’, ujub, dan kesombongan setelah beramal.
Melalui rangkaian pesan khutbah tersebut, jamaah diajak tidak hanya memahami makna kurban sebagai ibadah ritual semata, tetapi juga sebagai proses membangun keikhlasan, ketakwaan, serta kepedulian sosial dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai pengorbanan, kesabaran, dan keimanan yang dicontohkan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS menjadi refleksi penting bagi umat Islam dalam menghadapi tantangan kehidupan modern.
Suasana religius dan penuh kekeluargaan pun terasa kuat selama pelaksanaan Sholat Iduladha berlangsung. Jamaah dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga lansia, mengikuti rangkaian ibadah dengan tertib dan penuh kekhusyukan.
Pelaksanaan Sholat Iduladha bersama di ruang terbuka seperti ini juga dinilai menjadi simbol persatuan masyarakat. Selain mempererat silaturahmi antarwarga, kegiatan tersebut menjadi momentum memperkuat semangat gotong royong dan solidaritas sosial di tengah kehidupan bermasyarakat.

Selain menjadi momentum spiritual dan penguatan ukhuwah, pelaksanaan Sholat Iduladha 1447 H di Lapangan Desa Tlogorandu juga menunjukkan tingginya partisipasi sosial masyarakat. Dari hasil infaq jamaah yang terkumpul selama pelaksanaan kegiatan, panitia mencatat total dana sebesar Rp7.643.000,-. Perolehan tersebut mencerminkan kuatnya semangat gotong royong dan kepedulian warga dalam mendukung kegiatan keagamaan bersama.
Panitia FKTM turut menyampaikan apresiasi kepada seluruh jamaah dan masyarakat yang telah berpartisipasi dalam menyukseskan pelaksanaan Sholat Iduladha tahun ini. Semangat kebersamaan tersebut dinilai menjadi modal sosial penting dalam menjaga harmoni, solidaritas, dan keberlangsungan kegiatan keagamaan di tengah masyarakat Desa Tlogorandu.
Di tengah tantangan sosial yang semakin kompleks, kebersamaan yang ditunjukkan masyarakat Desa Tlogorandu menjadi contoh bahwa nilai-nilai persatuan, kepedulian, dan kolaborasi masih terjaga dengan baik di tingkat desa.
Reporter: Rakyatmenilai.com
Lokasi: Lapangan Desa Tlogorandu, Juwiring, Klaten








