New Delhi, Krisis geopolitik yang menutup jalur pelayaran Selat Hormuz selama lebih dari tiga bulan telah memaksa India mencari jalur alternatif. Hasilnya, India menemukan “Plan B” yang potensial: Oman, melalui perjanjian dagang yang mulai berlaku 1 Juni 2026.
Menurut laporan Global Trade Research Initiative (GTRI), krisis yang dipicu perang AS-Iran ini telah mengganggu pengiriman energi global. Namun, Oman dengan posisi geografisnya yang unik dapat menjadi gerbang logistik yang andal.
Sebagaimana diberitakan Times of India, wilayah pesisir Oman yang luas terletak di Laut Arab dan Teluk Oman, bukan di dalam Selat Hormuz. Kondisi ini memungkinkan pelabuhan seperti Salalah dan Duqm tetap aman diakses ketika pelayaran di negara-negara tetangga lumpuh.
“Dengan sebagian besar garis pantainya berada di luar Selat Hormuz, Oman dapat bertindak sebagai jalur energi alternatif bagi India selama terjadi konflik kawasan,” ujar pendiri GTRI, Ajay Srivastava.
Fakta ini menyoroti sebuah pelajaran penting bagi Indonesia yang saat ini menjadi Ketua ASEAN dan memiliki posisi strategis di Selat Malaka serta jalur ALKI (Alur Laut Kepulauan Indonesia).
Data perdagangan menunjukkan dampak nyata dari ketergantungan pada satu jalur sempit. Impor India dari negara-negara Teluk utama (seperti Saudi, Qatar, UAE) anjlok dari sekitar 15 miliar dolar AS pada April 2025 menjadi hanya 9,8 miliar dolar AS pada April 2026.
Di saat yang sama, ekspor India ke negara-negara tersebut juga merosot drastis. Hal ini membuktikan bahwa mengandalkan jalur yang “bisa diblokade kapan saja” oleh konflik adalah risiko besar bagi ketahanan energi nasional.
Namun, ada satu pengecualian yang mencolok: Oman. Impor India dari Oman justru melonjak 246,4 persen, dari 430 juta dolar AS menjadi hampir 1,5 miliar dolar AS dalam periode yang sama. Lonjakan ini didorong oleh impor minyak mentah dan pupuk urea yang masuk melalui pelabuhan Oman yang “aman”.
“Pengalaman ini menunjukkan bahwa Oman dapat menjadi pintu gerbang perdagangan dan energi alternatif yang andal bagi India ketika Selat Hormuz bermasalah atau macet,” jelas Srivastava.
Indonesia, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, wajib membaca sinyal ini. Selat Malaka dan Lombok, sama halnya dengan Hormuz, adalah titik-titik rawan penyempitan yang sangat rentan terhadap perang atau sabotase di masa depan.
Jika konflik terjadi di Laut China Selatan atau Selat Taiwan, atau jika terjadi blokade di kawasan, apakah Indonesia memiliki “Oman” sendiri? Apakah kita memiliki pelabuhan alternatif di bagian timur Indonesia yang siap mengambil alih lalu lintas logistik nasional?
FTA India-Oman ini mengajarkan bahwa geopolitik adalah segalanya. Meskipun pasar Oman relatif kecil (populasi 5,5 juta jiwa), fungsi logistiknya dinilai sangat strategis.
Data GTRI menunjukkan bahwa 98 persen jalur tarif Oman akan memberi akses bebas bea bagi produk India. Bagi Indonesia, pelajaran ini adalah urgensi untuk memperkuat kerja sama logistik dengan negara tetangga seperti Timor Leste, Papua Nugini, bahkan Australia Utara, agar kita tidak hanya mengandalkan jalur barat yang rawan penyempitan.
Selama krisis, Oman menjadi penyelamat meskipun volume dagangnya kecil. Di saat impor dari Teluk jatuh, impor dari Oman naik drastis.
Pemerintah Indonesia perlu meniru strategi ini dengan cepat. Ketergantungan pada jalur tunggal (Selat Malaka) sama dengan mengundang bencana ekonomi. Diversifikasi jalur logistik melalui kerja sama bilateral adalah kebutuhan mendesak, bukan sekadar wacana.
Yang diperlukan sekarang bukan hanya membangun pelabuhan, tetapi membangun konektivitas lintas negara yang tahan banting (resilient) terhadap gejolak krisis. Indonesia harus bergerak cepat menyusun “Plan B” sebelum krisis benar-benar menimpa kawasan kita, bukan menunggu sampai terjebak seperti India di awal krisis ini.
rakyatmenilai.com
Referensi Utama Analisis Kebijakan Dan Geopolitik







