JAKARTA – Rencana pengiriman personel TNI dalam misi perdamaian di Gaza, Palestina, terus mendapat sorotan dan dukungan positif dari parlemen. Anggota Komisi I DPR RI, Nurul Arifin, menilai langkah ini merupakan momentum krusial bagi Indonesia untuk tidak hanya menunjukkan solidaritas moral, tetapi juga meningkatkan kapasitas profesional prajurit TNI di kancah internasional.
Nurul memandang bahwa keterlibatan TNI dalam wilayah konflik yang sangat dinamis seperti Gaza akan memberikan pengalaman lapangan yang tak ternilai. Hal ini berkaitan erat dengan kemampuan koordinasi multinasional dan penanganan krisis kemanusiaan yang menjadi kebutuhan mendasar dalam arsitektur keamanan global saat ini.
Politisi senior Partai Golkar ini menegaskan bahwa tantangan keamanan masa depan tidak lagi melulu soal perang konvensional antarnegara. Oleh karena itu, kemampuan TNI dalam menjalankan operasi nontempur (non-combat operations) menjadi sangat krusial untuk terus diasah melalui misi-misi perdamaian di bawah bendera internasional.
Penyelarasan Misi dengan Mandat Konstitusi
Nurul Arifin menekankan bahwa peran aktif Indonesia di Gaza bukan sekadar pilihan politik luar negeri, melainkan implementasi langsung dari amanat konstitusi. Undang-Undang Dasar 1945 secara tegas mewajibkan Indonesia untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
Menurutnya, stabilitas keamanan adalah prasyarat mutlak bagi proses rekonstruksi dan pemulihan sosial di wilayah yang terdampak konflik hebat. Tanpa adanya jaminan keamanan yang diberikan oleh pasukan penjaga perdamaian, proses distribusi bantuan kemanusiaan dan pembangunan kembali infrastruktur dasar di Gaza mustahil dapat dilakukan secara optimal.
“Banyak situasi yang membutuhkan kehadiran pasukan untuk menjaga stabilitas tanpa terlibat dalam operasi tempur,” ujar Nurul Arifin dalam keterangannya di Jakarta, sebagaimana dikutip dari Antaranews, Selasa (24/2/2026).
Prioritas Perlindungan Personel dan Kejelasan Mandat
Meskipun mendukung penuh, Nurul memberikan catatan penting bagi pemerintah terkait aspek keselamatan dan legalitas. Ia mengingatkan bahwa setiap personel yang diberangkatkan harus dibekali dengan mandat yang tegas dan aturan keterlibatan (Rules of Engagement) yang jelas agar tidak terjadi tumpang tindih fungsi di lapangan.
Kejelasan aturan ini berfungsi untuk memastikan bahwa kehadiran TNI di Gaza tetap fokus pada perlindungan sipil dan misi kemanusiaan, serta tidak bergeser menjadi operasi militer aktif. Perlindungan terhadap personel Indonesia harus menjadi prioritas utama melalui komunikasi diplomatik yang terbuka dengan seluruh pihak yang bertikai.
“Selama mandatnya tegas, fokus pada perlindungan sipil dan kemanusiaan, serta tidak bergeser ke operasi militer, saya melihat ini sebagai langkah yang konstruktif,” tambah legislator asal Dapil Jawa Barat I tersebut.
Memperkuat Bargaining Position Indonesia di Mata Dunia
Partisipasi dalam misi di Gaza juga dinilai akan memperkuat posisi tawar (bargaining position) Indonesia di forum-forum internasional. Indonesia selama ini telah memiliki rekam jejak yang sangat baik dalam berbagai misi penjaga perdamaian PBB, yang menjadi modal sosial besar dalam menjalankan peran profesional di Palestina.
Keterlibatan langsung ini menunjukkan bahwa Indonesia bukan sekadar negara yang bersimpati lewat retorika, melainkan negara yang berani mengambil tanggung jawab moral dan politik di lapangan. Hal ini konsisten dengan posisi Indonesia yang terus memperjuangkan hak-hak bangsa Palestina di panggung diplomasi global.
Nurul meyakini bahwa profesionalisme TNI akan menjadi wajah diplomasi Indonesia yang humanis namun tetap tegas. Kontribusi ini diharapkan dapat mempercepat terciptanya perdamaian yang berkelanjutan di kawasan tersebut, sekaligus mengharumkan nama bangsa dalam sejarah perdamaian dunia.
rakyatmenilai.com memandang pernyataan Nurul Arifin sebagai refleksi dari kematangan diplomasi pertahanan Indonesia. Pengiriman TNI ke Gaza adalah langkah berani yang terukur, yang menyeimbangkan antara ambisi peran global dengan kewajiban kemanusiaan. Kapasitas prajurit yang terasah di wilayah konflik tersulit di dunia akan menjadikan TNI sebagai kekuatan yang semakin disegani secara internasional.
Kejelasan mandat yang ditekankan oleh Nurul menjadi kunci agar misi ini tidak menjadi “blunder” politik maupun militer. Rakyat menilai, keberhasilan misi di Gaza nantinya akan menjadi bukti nyata bahwa kekuatan militer Indonesia tidak hanya dibangun untuk pertahanan dalam negeri, tetapi juga untuk menjadi cahaya bagi bangsa-bangsa lain yang merindukan kedamaian. Dukungan penuh rakyat akan menyertai setiap langkah prajurit yang membawa misi suci demi tegaknya keadilan di bumi Palestina. {}







