Visit Sponsor

Written by 6:49 am Parlemen

Bamsoet: Konflik Yang Terjadi Di Masa Lalu Tidak Boleh Diwariskan

Jakarta, Rakyat Menilai –Ketua MPR RI Bambang Soesatyo mengingatkan kelompok-kelompok masyarakat agar memiliki sikap kedewasaan dan kebijaksanaan dalam mewaspadai potensi konflik akibat penyelenggaraan pemilu serentak pada 2024. 

“Oleh karena itu, diperlukan sikap kedewasaan dan kebijaksanaan dari segenap kelompok masyarakat,” kata Bamsoet, sapaan karibnya, dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Rabu, usai menerima pengurus Forum Silaturahmi Anak Bangsa (FSAB). 

Bamsoet menyebut bahwa dalam konteks kehidupan demokrasi, negara menjamin kebebasan untuk mengemukakan pendapat dalam segala bidang, termasuk dalam menentukan pilihan dan orientasi politik. Untuk itu, lanjut dia, berbagai kelompok masyarakat memiliki peran penting dan krusial dalam menarasikan pentingnya menjaga nilai-nilai kebersamaan.

Sebab, katanya, berkaca pada beberapa pemilu yang telah diselenggarakan, kerap kali menyisakan residu persoalan di tengah masyarakat. “Kontestasi politik seringkali menyebabkan polarisasi rakyat pada kutub-kutub yang berseberangan, bahkan berpotensi memicu konflik horizontal,” ujarnya. 

“FSAB telah menjadi landasan bagi Bangsa Indonesia bahwa konflik yang terjadi di masa lalu tidak boleh diwariskan ke generasi selanjutnya. Cukup dijadikan pelajaran penting agar tidak terulang di kemudian hari,”.

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo

Terkait hal tersebut, Bamsoet pun mengapresiasi dan mendukung Forum Silaturahmi Anak Bangsa (FSAB) yang berdiri sejak 2003 sebagai gerakan moral yang terus menyebarkan benih perdamaian ke berbagai penjuru Tanah Air. 

“FSAB telah menjadi landasan bagi Bangsa Indonesia bahwa konflik yang terjadi di masa lalu tidak boleh diwariskan ke generasi selanjutnya. Cukup dijadikan pelajaran penting agar tidak terulang di kemudian hari,” ujarnya.

Di mana, FSAB mewadahi berbagai anak cucu anggota TNI maupun keturunan berbagai gerakan. Mulai dari, Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI), Perjuangan Rakyat Semesta (PERMESTA), Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII), hingga Gerakan 30 September/Partai Komunis Indonesia (G30S/PKI).

“FSAB juga menunjukkan bahwa benih-benih konflik antaranak bangsa sebenarnya bisa diredam dan diselesaikan. Kuncinya, semua pihak mau bersikap terbuka dan membangun dialog untuk menciptakan saling kesepahaman,” katanya.

Oleh karena itu, Bamsoet mengajak FSAB agar tidak hanya menyetop konflik warisan masa lalu, melainkan terlibat pula dalam membendung berbagai potensi konflik yang terjadi hari ini agar tidak membesar di esok hari.

“FSAB bisa menjadi mitra strategis pemerintah dalam menjaga agar aktualisasi kehidupan berpolitik tidak bersinggungan dengan isu-isu sensitif yang dapat menimbulkan kesalahpahaman, dan memicu konflik horizontal, apalagi menjadikannya sebagai alat pembenaran,”.

Bamsoet

“FSAB bisa menjadi mitra strategis pemerintah dalam menjaga agar aktualisasi kehidupan berpolitik tidak bersinggungan dengan isu-isu sensitif yang dapat menimbulkan kesalahpahaman, dan memicu konflik horizontal, apalagi menjadikannya sebagai alat pembenaran,” kata dia.

Turut hadir sejumlah dalam pertemuan tersebut, antara lain Ketua FSAB Suryo Susilo; Mayang Deborah, cucu Pahlawan Revolusi D.I. Pandjaitan; hingga Bara Wiryawan, cucu sastrawan Sanoesi Pane.

Silahkan baca artikel sumber di golkarpedia

(Visited 51 times, 1 visits today)