Visit Sponsor

Written by 7:41 pm Parlemen

Starlink Resmi Masuk Indonesia, Nurul Arifin: Jangan Sampai Rugikan Industri Telekomunikasi Nasional

Senayan, Rakyat Menilai — Anggota Komisi I DPR RI Fraksi Golkar, Nurul Arifin, mencecar Menkominfo Budi Arie Setiadi terkait penerapan Starlink di Indonesia. Ia mewanti-wanti jangan sampai teknologi besutan Elon Musk itu mematikan industri jaringan milik Indonesia.

“Tanggal 19 Mei ketika Mas Elon Musk datang ke Indonesia dan resmi meluncurkan Starlink di sini, yang layanannya internet berbasis pada orbit rendah, hal ini memunculkan pro dan kontra sikap Kominfo itu sebenarnya gimana sih?” ujar Nurul di Raker dengan Komisi I DPR RI, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (10/6/2024).

“Yang kontranya sudah dipelajari belum? Yang pronya bagaimana? Karena ini kan merugikan industri telekomunikasi nasional,” lanjutnya.

Ia berharap penerapan Starlink ini bukan hanya menyasar kota besar tetapi juga daerah 3 T, tertinggal, terdepan, terluar. Nurul tak ingin Starlink justru mematikan industri telekomunikasi dalam negeri.

“Kalau kami melihatnya kenapa tidak di 3T saja Starlink itu beroperasi, kenapa harus di pusat, apakah memang ada permintaan atau kompensasi yang diminta oleh pihak Starlink? Kalau kami berharap jangan membunuh industri telekomunikasi dalam negeri, khususnya Telkom itu sendiri,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Budi Arie menjawab cecaran anggota DPR RI. Ia mengatakan regulasi Starlink mesti mengikuti aturan di Indonesia. “Pemerintah tidak menjadikan Starlink sebagai anak emas. Dan memberikan perlakuan yang setara kepada semua penyelenggara internet service provider,” ujar Budi Arie.

Ia mengatakan tak perlu khawatir akan pangsa pasar Starlink di Indonesia. Budi mencontohkan distribusi Starlink di negara lain yang rata-rata market share-nya di bawah satu persen.

“Karena nggak usah khawatir Starlink. Karena data terakhir Starlink itu di Amerika Serikat cuma 0,2% dari market share di Amerika, di Kanada cuma setengah persen, di Australia juga setengah persen dan di Selandia Baru cuma 0,8% pengguna Starlink Selandia Baru,” tutur Budi Arie.

“Itu negara-negara yang kita lihat secara geografis kan memerlukan teknologi satelit. Jadi kenapa kita mesti takut dengan yang market share-nya bawah 1 persen,” sambungnya.

Ia menyebutkan adanya Starlink di RI bisa memantik anak muda untuk mengembangkan teknologi yang lebih canggih. Ia meminta seluruh pihak tak khawatir dengan penggunaan Starlink. “Jadi juga pecutan untuk teman-teman operator dan telekomunikasi seluler ini untuk juga berbenah, terutama dari sisi aspek teknologi itu,” kata Budi Arie.

“Saya pikir ini Starlink karena paling hot terus, saya bilang tenang aja kalian masa takut sama Starlink,” imbuhnya. {golkarpedia}

(Visited 85 times, 1 visits today)